Kemuliaan Kitab Ihya’ Ulumuddin

Kenapa kamu membenci kitab yang sangat bagus ini?

Ulama’ merupakan panutan atau teladan dalam hidup kita. Ulama’ juga merupakan penerus perjuangan Nabi dalam menyiarkan islam, hal ini berdasarkan sabda Rosul SAW “Innal ‘ulama  warosatul anbiya’”, (Sesungguhnya ‘ulama’ adalah pewaris para nabi). Namun diera milenial ini kita seakan-akan bisa dan boleh “memvonis” sendiri prihal ulama’ tersebut baik atau buruknya, padahal hal tersebut tidak diperkenankan dalam islam.

Begitu juga yang terjadi di zaman Salafus Sholeh, ada yang mengatakan bahwa ulama’ yang baik adalah ulama’ yang suka terhadap kitab-kitab karya Imam Al-Ghozali, begitu pula sebaliknya. Kerena dalam karya Imam Al-Ghozali tersebut banyak menyinggung tentang kehidupan didunia ini, hal ini tentu menjadi bahan itropeksi oleh para ulama’ yang baik, tetapi berbeda dengan apa yang dialami oleh ulama’ yang tidak suka akan hal tersebut. Seperti yang terjadi pada Ibnu Hirzihim.

Diceritakan suatu ketika Ibnu Hirzihim yang berasal dari daerah Maghribi ini, ingin menghancurkan kitab Ihya’ Ulumuddin, karangan Imam Al-Ghozali dengan cara membakarnya. Diapun membentuk suatu gerakan dengan mengajak para ulama’ dan orang-orang yang sependapat dengannya untuk membakar kitab Ihya ’. Setelah berunding dan bermusyawaroh akhirnya ditentukan, bahwa nanti ketika selesai sholat Jum’at mereka akan serempak membakar semua kitab Ihya’ yang ada di daerah tersebut.

Merekapun kembali kerumah masing-masing, namun ketika malamnya, Ibnu Hirzihim ini ditemui oleh Baginda Nabi dalam mimpinya. Dimimpinya itu Nabi sedang bersama Abu Bakar dan Umar RA, dan Imam Al-ghozali pun ada disana, ia seakan-akan sedang diadili. Kemudian Imam Ghozali mengadukan kepada Nabi bahwa Ibnu Hirzihim ini sangat tidak suka terhadap kitabnya yaitu ihya’ Ulumuddin. Lalu baginda Nabi membaca kitab yang dimaksud tersebut, dan berkata “Ini kitab yang sangat bagus”.

Setelah itu kitab Ihya itu diberikan kepada Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Umar Bin Khottob. Meraka berdua pun menanggapi kitab itu dengan tanggapan yang positif, “Kitab ini benar-benar kitab yang bagus” tukas mereka.

Setelah itu Ibnu Hirzihim ditanyai oleh Baginda ”Kenapa kamu membenci kitab yang sangat bagus ini?” tanya Nabi. Ibnu Hirzihim ini diam seribu bahasa, seakan-akan mulutnya terkunci, tak mampu berucap apapun. Kemudian Ibnu Hirzihim ini divonis bersalah dan akan dicambuk delapan puluh kali oleh baginda Nabi sendiri. Namun ditengah-tengah hukumanya Abu Bakar berucap kepada Nabi,”Wahai Rosulullah, ampunilah ia, barangkali ia masih belum tahu”. Nabi pun menurunkan cambuknya, dan hukumanya diselesaikan.

Ibnu hirzihim lalu bangun dari tidurnya dalam keadaan terkejut dan rasa sakit akibat cambukan tadi masih terasa ditubuhnya, kemudian ia beristighfar dan bertaubat kepada Allah. Ada yang mengatakan setelah beliau wafat luka bekas cambukanya masih membekas ditubuhnya. Kejadian ini menimpanya dikarenakan ia telah Su’ul adab kepada ulama’.

Oleh karena itu jangan lah kita ber”su’ul adab” kepada para ulama’, dizaman sekarang ini ulama’ juga direalisasikan dengan guru-guru kita,para masayikh dll. Maka jangan sekali-kali kita berani atau menantang guru kita, karena mungkin saja akan mendapatkan musibah seperti kejadian tadi. Tak hanya itu, Su’ul adab kepada guru juga bisa menyebabkan ilmu kita tidak bermanfaat dan tidak barokah.[]

(Ziyad Mubarok)

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.