Ahli ibadah yang kehilangan Karomah

Semakin dekat sang Fasiq kepada ‘Abid semakin besar pula rasa benci ‘Abid kepada Fasiq

Diceritakan dalam kitab Tajul ‘Arus, bahwasanya, suatu ketika di zaman Bani Israil. Hiduplah seorang yang sangat zuhud sekali. Ia juga tergolong ahli ibadah. Saking rajinya ia beribadah, ia pun menyangdang gelar ‘abid, ia juga mendapatkan sebuah karomah dari allah swt. Yaitu, kemanapun ia pergi, Awan akan selalu menanginya dan menjaganya dari panasnya matahari.

Dilain tempat, hidup juga seorang yang sangat fasiq. Berbagai macam kemaksiatan sudah pernah ia lakukan. Namun ia merasa bosan dengan semua ini dan ingin segera bertobat dari semua kesalahanya yang dulu. Ia pun teringat bahwa di daerahnya terdapat ‘Abid yang ahli ibadah. Ia berkeinginan menjumpai beliau dan meminta nasehat untuk bertaubat.

Sang fasiq pun kemudian mencari keberadaan si ‘abid. Ia terus mencari dan mencari, tanpa kenal lelah. Hingga akhirnya ia pun menjumpai sang ‘abid tengah bersandar di suatu tempat. Namun ketika hendak di hampiri, sang ‘abid menatap ahli fasiq tersebut dengan tatapan tajam dan rasa tak suka.

Semakin dekat sang fasiq kepada ‘abid semakin besar pula rasa benci ‘abid kepada ahli fasiq itu. Namun sang fasiq tetap beri’tiqod untuk menghampiri beliau. Hingga akhirnya ketika mereka berpapasan sesuatu yang aneh terjadi.

           Awan yang awalnya menaungi sang ahli ibadah tersebut, tiba-tiba berputar arah dan ganti memihak kepada ahli fasiq tersebut.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa karomah sang ahli ibadah tiba tiba hilang dan musnah?. Seorang ahli hikmah mengatakan bahwasanya, ketika sang ahli ibadah dan ahli fasiq tersebut berpapasan, dalam hati mereka terdapat krentek hati yang berbeda.

Sang ahli ibadah dengan krentek hati meremehkan, mencemooh, mencela dan memaki ahli fasik karena kefasikanya tersebut. Dan sang fasik dengan krentek hati ingin bertaubat, ingin berubah dan ingin menjadi seperti si ‘abid yang ahli ibadah tersebut.

Oleh karenanya Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari pernah berkata dalam karyanya yang berjudul Al-hikam bahwa

مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

Artinya:  “Sebuah maksiat yang berbuah kerendahan diri dan kefakiran (di hadapan Allah) lebih baik daripada amal ibadah yang melahirkan bibit kebanggan dan keangkuhan.”[]

 

Disampaikan oleh H. Muhammad Shofi Al Mubarok

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.