loader image
Breaking News

Kisah Kiai Ahmad Muhammad (Gus Muh)  Menolak Undangan Ceramah

Sebagaimana tradisi warga nahdliyyin di Indonesia. Jika akan mengadakan peringatan hari besar Islam atau biasa disebut dengan acara pengajian, semacam perayaan maulid nabi, peringatan Nuzulul Qur’an dan lain sebagainya. Maka pihak panitia pengajian akan menunjuk salah seorang dari mereka untuk sowan bertamu kepada tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang telah mereka sepakati untuk hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara atau muballigh untuk menyampaikan ceramah keagamaan atau mau’idzah hasanah.

Ilustrasi: tangan menengadah berdoa, memohon kepada Allah ta’ala

Demikian pula yang dilakukan oleh seorang panitia pengajian. Kala itu, ia berniat sowan kepada Kiai Ahmad Muhammad, putra Kiai Chudlori pendiri Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Maka bergegaslah ia sebagai perwakilan panitia untuk menuju ke kediaman Kiai Ahmad Muhammad atau yang akrab dikenal dengan sapaan Gus Muh.

Di tengah perjalanannya menuju rumah Gus Muh. Langkahnya cukup gamang karena beberapa hal. Diantaranya karena ia sendiri ragu akankah mampu bertemu langsung dengan Gus Muh. Ditambah lagi jika mampu bertemu pun, akankah jadwal Gus Muh masih kosong dengan tanggal yang telah diagendakan oleh panitia pengajian. Sehingga nantinya Gus Muh berkenan hadir dalam acara pengajian.

Ia mencoba memantapkan hatinya dan menghalau kegamangannya sembari tetap meneruskan perjalanan sowannya. Akhirnya, sampailah ia di rumah Gus Muh dan Alhamdulillah ternyata Gus Muh pun juga sedang di rumah.

Setelah menunggu untuk beberapa saat, Gus Muh pun menemuinya di ruang tamu. Segeralah ia menghadap dan mengutarakan maksud kedatangannya bahwa memohon Gus Muh agar berkenan hadir untuk berceramah dalam acara pengajian yang dimaksud.

“Kapan ini acaranya?” tanya Gus Muh kepadanya.

Sembari gugup karena pancaran kewibawaan Gus Muh, dengan suara lirih ia menjelaskan bahwa acara akan digelar satu bulan yang akan datang. Gus Muh pun berkata,

“Maaf saya ndak bisa, terlalu dekat itu waktunya.”

Seketika perwakilan panitia itu pun menunduk dan merautkan wajah kecewa. Bagaimana tidak, ia yang dipercayai oleh panitia untuk sowan meghaturkan undangan ceramah, harus pulang dengan hasil yang nihil. Belum lagi dengan ketidak-enakan hatinya secara pribadi, yang dinilai Gus Muh bahwa undangan panitia terlalu mepet. Jarak antara undangan dengan pelaksanaan pengajian terlalu dekat.

Melihat gelagatnya yang demikian, segera Gus Muh menjelaskan maksud penolakannya.

“Mohon maaf sebelumnya. Saya menolak bukan karena jadwal saya tidak ada yang kosong di hari itu. Bukan pula karena jadwal saya terlalu padat. Sama sekali bukan karena itu. Melainkan sebelum berceramah, jauh-jauh hari sebelumnya, sebagai persiapan, saya akan mendoakan para masyarakat yang akan hadir di acara tersebut supaya dibukakan pintu hati dan pikirannya. Sehingga ketika saya mengaji di sana, para hadirin benar-benar dalam keadaan siap lahir-batin untuk menerima nasehat.” jelas Gus Muh yang diikuti anggukan kepala perwakilan panitia. Mengisyaratkan bahwa ia memahami maksud Gus Muh yang diluar dugaannya, maupun nalar kebanyakan orang biasa.

Demikianlah, akhlak para pendahulu yang sangat patut untuk ditiru. Bahwa dalam menyampaikan pesan keagamaan atau ceramah. Hendaknya yang menjadi fokus utama tidaklah sekedar materi ceramah yang dipersiapkan. Namun lebih dari itu, riyadhah batiniah laku tirakat pun juga perlu untuk dilakukan.

Dalam hal ini, mendoakan para pendengar agar benar-benar dibukakan oleh Allah hati dan pikirannya. Sehingga nantinya diharapkan mampu menerima dan mengamalkan ajaran kebenaran agama Islam. Karena sejatinya, manusia hanyalah sekedar penyampai risalah kenabian. Adapun Allah, adalah dzat yang berkuasa memberikan hidayah dalam hati manusia.

Allohummahdina shiratakal mustaqim…

(Ulin Nuha Karim)

-dikisahkan oleh Pengasuh Ponpes Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. H. Muhammad Shofi Al Mubarok Baidlowie dalam momen pengajian Kitab Tafsir Jalalain. Kisah bersumber dari Romo KH. Munawir Munajat, Pengasuh Ponpes. Nazalal Furqon, Tingkir, Kota Salatiga.

About Ulin Nuha Karim

Check Also

Apakah Boleh Pernikahan Beda Agama? Boleh dong dengan Syarat….

Pernikahan beda agama sering kali menjadi titik perdebatan yang kompleks, mencerminkan dinamika budaya, nilai agama, dan hubungan personal. Menyelami pandangan beragam dan memahami perspektif yang berbeda dapat membantu individu membuat keputusan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan keyakinan mereka

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sirojut Tholibin

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca