loader image
Breaking News

Meragukan Rezeki dari ALLAH

Saat ini banyak orang yang secara tidak sadar telah mendustakan Allah (hati mereka mendustakan Allah). Musibah ini berasal dari orang-orang kafir. Kita wajib mengobatinya dengan hikmah.

Bencana kaum muslimin adalah keraguan mereka pada rezeki Allah dan keyakinan mereka pada usaha sendiri. –Musibah ini berasal dari orang-orang kafir– . Mereka berhasil memasarkan konsep ini di kalangan kaum muslimin. Mereka ingin agar kaum muslimin meragukan ketakwaan, ilmu dan rezeki Allah Ta’âlâ.

Orang-orang mengira bahwa rezeki tersimpan dalam gudang-gudang pemerintah, pekerjaan (proyek) atau usaha-usaha lahiriah saja. Keyakinan ini bertentangan dengan akidah Islam, bertentangan dengan tauhid, keimanan dan Quran. Bertentangan dengan keimanan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Seorang lelaki berkata kepada temannya, “Rezeki tidak bakal datang kecuali lewat usaha dan pekerjaan.”

“Rezeki ada dalam kekuasaan Allah. Usaha, kegiatan dan pekerjaan hanyalah salah satu penyebab datangnya rezeki. Allah akan memberikan rezeki dengan atau tanpa sebab,” jawab temannya yang memiliki keimanan.

“Rezeki tidak akan pernah diperoleh kecuali dengan bekerja dan berusaha,” kata orang itu.

“Sudah kukatakan kepadamu bahwa pekerjaan dan usaha hanyalah sebab, Allah-lah yang sesungguhnya memberikan rezeki.”

“Baiklah, jika ucapanmu benar, duduklah di tempatmu ini dan aku akan berusaha dan bekerja. Coba kita lihat nanti, siapa yang akan datang membawa rezeki.”

“Silahkan.”

Lelaki itu lalu keluar. Baru sampai di dekat pintu rumah, ia telah memperoleh sebuah apel. Ia membawa apel itu dan memberikannya kepada temannya, “Lihatlah bagaimana usahaku membuahkan hasil. Karena aku berusaha, maka aku mendapat rezeki. Makanlah apel itu.”

Temannya membiarkannya hingga selesai berbicara. Ia kemudian berkata, “Sekarang coba lihat, siapa yang sebenarnya memperoleh rezeki?”

“Aku, karena aku mau berusaha.”

“Mana rezekimu? Akulah yang memakan apel ini. Aku yang memperoleh rezeki. Kau tidak memperoleh apa-apa. Kau hanyalah seorang pembantu (khôdim). Kau pergi hanya untuk mengambilkan rezekiku. Meski aku duduk di rumah, tapi Allah memberiku apel. Sedangkan kau pergi dan berusaha, tapi pulang dengan tangan kosong. Allah hanya menjadikan kau sebagai pembantu, dan tidak memberimu apa-apa. Mana rezekimu?”

Lelaki itu terduduk, merenung. Ia lalu berkata, “Lâ Ilâ ha Ilallôh, benar sekali ucapanmu. Kau duduk di rumah, tapi mendapatkan apel. Sedangkan aku pergi dan berusaha tapi tidak memperoleh apa-apa.”

Contoh ini sengaja kubawakan agar kalian memahami bahwa sesungguhnya yang memberi rezeki adalah Allah.

(Habib Umar bin Hafizh, Manhaj Dakwah)

*) Tulisan dari Telegram Ustadz Muhammad Alhabsyi110

About Ghozali Husain

Check Also

Apakah Boleh Pernikahan Beda Agama? Boleh dong dengan Syarat….

Pernikahan beda agama sering kali menjadi titik perdebatan yang kompleks, mencerminkan dinamika budaya, nilai agama, dan hubungan personal. Menyelami pandangan beragam dan memahami perspektif yang berbeda dapat membantu individu membuat keputusan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan keyakinan mereka

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sirojut Tholibin

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca