Semilir Angin Akhlak Simbah Kiai Umar

 

“Kamu mau berangkat mondok, Nak?” tanya sang bapak kepadanya. Dan belum juga sang anak menjawab sang bapak sudah meneruskan kalimatnya, “beragkatlah ke pesantren. Tapi aku berika tiga syarat untuk kau lakukan.”

“Apa tiga syarat itu, Bapak?” tanya sang anak.

“Pertama, jangan pernah pulang selama tiga tahun… tiga bulan… tiga minggu… tiga hari… Kedua, jangan pernah mengharap kiriman dari rumah. Ketiga, berkhidmahlah pada kiaimu, buat kiaimu selalu ridlo kepadamu.”

Mendengar perkataan bapaknya itu sang anak hanya mengangguk sambil berkata singkat, “Nggeh!” Ucapan singkat itu menjadi pertanda bahwa ia merasa siap dengan persyaratan yang diajukan sang bapak. Maka berangkatlah sang anak ke sebuah pesantren di Termas Pacitan.

Di pesantren apa yang disyaratkan oleh sang bapak benar-benar dilaksanakan oleh sang anak. Selama tiga tahun tiga bulan tiga minggu tiga hari ia tidak pernah sekali pun pulang ke rumah. Bahkan ketika ia mendapat dawuh dari sang kiai untuk melakukan suatu keperluan di Kota Solo–tempat dimana ia berasa—ia tak menggunakan kesempatan itu untuk menyempatkan pulang ke rumah. Kepada orang-orang yang kebetulan dikenalnya ia hanya menanyakan kabar tentang keluarganya.

Ia juga tak pernah mengharap mendapat kiriman uang saku atau lainnya dari orang tua. Semakin lama jatah kiriman dari rumah semakin berkurang dan sering datang terlambat. Untuk mengatasi hal itu sang anak setiap hari perpuasa dengan hanya minum air putih dan makan singkong rebus saat berbuka. Dan makan dan minum saat berbuka itu juga menjadi saat makan dan minum sahur untuk puasa keesokan harinya.

Sebagaimana pesan bapaknya yang menjadi syarat ketiga sang anak benar-benar berusaha untuk bisa berkhidmah dengan sebaik-baiknya kepada kiai pengasuh pesantren. Ia berusaha melakukan apapun yang membuat sang kiai senang dan ridlo kepadanya. Konon, untuk memenuhi syarat ketiga ini ia sering mereparasi jam tangan sang kiai.

Itulah sekelumit kisah tentang awal belajarnya sang anak yang di kemudian hari dikenal oleh masyarakat luas sebagai Kiai Haji Ahmad Umar bin Abdul Manan atau yang lebih akrab disapa Mbah Umar.

Setelah nyantri di Pacitan Kiai Umar yang lahir pada tanggal 5 Agustus 1916 itu melanjutkan belajarnya di beberapa pesantren seperti di Mojosari Nganjuk, Popongan Klaten dan Krapyak Yogyakarta. Di pesantren yang terakhir ini Kiai Umar berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz secara bil ghaib, hafal di luar kepala.

Setelah proses belajarnya di beberapa pesantren selesai Kiai Umar kembali ke kampung halamannya dan merintis berdirinya sebuah pondok pesantren yang kini berdiri megah di tengah ramainya Kota Solo, Pondok Pesantren Al-Muayyad atau juga dikenal dengan Pondok Mangkuyudan karena letaknya yang berada di Kampung Mangkuyudan.

Bercerita tentang Kiai Umar adalah menyelami samudera yang maha luas. Ada banyak hal yang tak pernah habis untuk diceritakan. Tak pernah kehabisan tema seorang pencerita mengisahkan Kiai Umar. Dan akhlak adalah mutiara termahal yang bisa ditemukan di dalamnya samudera manaqib Kiai Umar.

Sebagai seorang kiai pengasuh pondok dan juga sebagai seorang tokoh masyarakat Kiai Umar dikenal sebagai sosok yang berkepribadian sangat baik. Siapapun yang mengenalnya mengakui akan kemuliaan akhlak dan kebaikan budi pekerti beliau. Bagi mereka berinteraksi dengan Kiai Umar ibarat menikmati semilir angin sepoi yang membuat hati merasa tenang dan tenteram.

Bapak Kiai Baidlowi Syamsuri—Allahu yarham—mengabadikan beberapa sikap baik Kiai Umar dalam sebuah buku berbahasa Jawa yang diberi judul Al-Durr Al-Mukhtar. Di dalamnya penulis menceritakan bagaimana sikap bajik nan bijak Kiai Umar saat berinteraksi dengan berbagai kalangan lapisan masyarakat.

Dikisahkan, Suatu ketika datang seorang tamu ke rumah Kiai Umar. Keduanya terlibat pembicaraan yang cukup kental. Namun dalam lubuk hati Kiai Umar bertanya-tanya, “Siapa nama tamu ini, sepertinya aku pernah mengenalnya?” Ingin rasanya beliau menanyakan langsung siapa nama tamu tersebut. Namun niat ini beliau urungkan karena khawatir akan membuat kecewa tamunya, bahwa namanya telah terlupakan dari ingatan sang kiai yang terkenal ramah ini.

Maka dipanggilah seorang santrinya yang biasa ngladeni para tamu di ndalem. Dengan berbisik lirih—agar sang tamu tidak mendengar—beliau berkata, “Saya lupa nama tamu ini. Tolong kamu bincang-bincang sebentar dengannya dan jangan lupa tanyakan nama dan alamatnya. Saya akan masuk sebentar mendengarkan perbincangan kalian.”

“Maaf, saya masuk sebentar ke dalam,” pamit beliau pada sang tamu. Beliau pun masuk ke dalam rumah, sedangkan sang santri terus bercakap-cakap dengan sang tamu. Ia tanyakan nama, alamat, pekerjaan, dan lain sebagainya. Sementara dari dalam rumah Kiai Umar mendengarkan pembicaraan mereka. Setelah dirasa cukup Kiai Umar kembali menemui tamunya dan menyuruh sang santri masuk kembali ke dalam. Maka perbincangan antara sang tamu dan sang kiai semakin akrab, setelah beliau mengingat kembali siapa tamu tersebut.

Demikian cara Kiai Umar menghormati tamunya setiap kali beliau lupa nama orang yang bertandang ke rumahnya. Beliau lakukan banyak cara untuk menjaga perasaan setiap sesama.

Lalu bagaimana Kiai Umar mendidik para santrinya? Dalam bukunya Kiai Baidlowi mengisahkan, suatu ketika Kiai Umar memanggil lurah pondok untuk menghadap. Setibanya si lurah di rumah kiai, beliau berkata, “Tolong saya dicatatkan nama-nama santri yang selama ini dianggap nakal.” Begitu dawuh beliau. “Kamu urutkan dari santri yang sangat nakal, nakal, sampai yang agak nakal. Saya ingin tahu nama-nama mereka.”

Mendapat perintah demikian si lurah bersenyum simpul. “Akhirnya para santri yang selama ini selalu membuat onar dan merepotkan pengurus akan dihukum oleh Pak Kiai langsung,” demikian ia membatin. Maka dengan semangat ia tulis semua nama santri yang selama ini dianggap merepotkan para pengurus. Disetorkannya nama-nama itu pada Kiai Umar.

Setelah ditunggu satu dua minggu kemudian tidak ada tanda-tanda Kiai Umar memanggil para santri yang namanya tercatat dalam daftar tersebut, lurah pondok dan para jajaran pengurusnya mulai bertanya-tanya, “Ada apa dengan nama-nama itu? Apa pula maksud Pak Kiai?” Demi menemukaan jawaban atas pertaanyaaan-pertanyaan itu sang lurah pondok memberanikan diri untuk menanyakannya langsung kepada Kiai Umar. Namun jawaban yang ia terima jauh dari dugaan semula. “Sebagai seorang pengasuh dan pengurus sudaah seharusnya mendoakan para santrinya agar kelak mereka menjadi orang-orang saleh yang dapat memberikan kemanfaatan bagi sesama. Lebih-lebih santri yang nakal. Mereka mesti lebih banyak mendapat perhatian. Kita doakan mereka agar sembuh kenakalannya, menjadi orang yang baik. Itulah sebabnya saya meminta daftar nama-nama itu untuk saya doakan secara khusus,” demikian Kiai Umar menjelaskaan dengan penuh kelembutan.

Hari Kamis, 11 Ramadhan 1400 H pada saat waktu sahur penduduk sekitar Pesantren Al-Muayyad berbondong mendatangi pesantren. Mereka bingung dan penasaran mendengar suara tangisan yang menggemuruh dari komplek pesantren. “Apa yang terjadi di pondok?” tanya mereka. Seorang santri menjawab, “Mbah Umar seda.”

Penduduk terkejut mendengar kabar tersebut. Air mata mereka tak terbendung. Dalam waktu singkat kabar meninggalnya Kiai Umar tersebar luas. Ketika matahari terbit berbondong orang datang ke pesantren untuk memberi penghormatan terakhir kepada sang kiai. Air muka ribuan pelayat tak satu pun yang ceria. Semua menggambarkan kesedihan. Tak ada wajah yang kering dari air mata. Semua merasa kehilangan. Siapapun yang mengenalnya merasa kehilangan sosok seorang guru, orang tua dan juga sahabat yang tak sekedar baik, tapi luar biasa baik. Sepeninggalnya, entah di mana lagi mereka akan dapatkan semilir angin yang menghalau gulana.

 

* Ditulis dari berbagai sumber oleh Yazid Muttaqin, wali santri Arfa Huriyah Elfaradis, Tegal.Tegal, 05 Oktober 2017

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Gema Sirojuth Tholibin edisi 5 “Dakwah Digital” Tahun 2017)

 

 

Berbagi ilmu:

Be the first to comment on "Semilir Angin Akhlak Simbah Kiai Umar"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*