RAHASIA DIBALIK TRADISI PENGAJIAN RUTIN SELAPANAN

Dokumentasi Pengajian Rutin Kamis Kliwon: KH. Muhammad Shofi Al Mubarok bersama Habib Abdillah bin Husain Al Hinduan, Ngroto Gubug Grobogan di Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan Jawa Tengah

Dokumentasi Pengajian Rutin Kamis Kliwon: KH. Muhammad Shofi Al Mubarok bersama Habib Abdillah bin Husain Al Hinduan, Ngroto Gubug Grobogan di Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan Jawa Tengah

Hari Kamis (8/8) lalu, Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah kembali menggelar acara Pengajian Rutin Kamis Kliwon di halaman Komplek Al Jauhar Pesantren Sirojuth Tholibin Putra.

Ya, acara tersebut merupakan acara rutin temporal yang digelar pihak pesantren setiap “selapan” sekali. Hadirinnya terdiri dari masyarakat sekitar Desa Brabo, Alumni, dan sebagian wali santri yang memang hadir secara sukarela.

Selapan yang oleh orang jawa sering menyebutnya kemudian menjadi selapanan sebagai kata kerja, merupakan hitungan satu bulan berdasarkan hari dan tanggalan jawa. Jumlah siklusnya akan berulang setiap 35 hari sekali.

Seperti yang telah diketahui, bahwa jumlah hari pasaran atau netu merupakan hitungan hari Suku Jawa.  Perhitungannya berjumlah lima hari pasaran. Ada; Pahing, Pon, Wage Kliwon, dan Legi.

Kiai-kiai NU khususnya yang berada di wilayah Jawa Tengah maupun Jawa Timur, sering mengagendakan kegiatan keagamaan berdasar pada perhitungan hari tersebut. Misalnya, seperti Pengajian Rutin Kamis Kliwon, Maulid setiap Jumat Legi, Sima’atul Quran per Hari Senin Pahing, dan lain sebagainya.

Dalam sambutannya sebagai Pengasuh Pesantren, H Muhammad Shofi Al Mubarok menjelaskan rahasia dibalik tradisi yang telah berlangsung di kalangan ulama NU tersebut.

“Kita menghadiri Pengajian Rutin Kamis Kliwon ini, (marilah) kita niati mengikuti apa yang diarahkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam,” tuturnya mengawali penjelasan.

“Kamis Kliwon itu merupakan pengajian 35 hari (selapan) sekali. Mengapa kok 35 hari, sebab arahan Kanjeng Nabi kepada Sayyidina ‘Ali,

ياعَلي, إذا أتى على المؤمن أربعون صباحًا ولم يجالس العلماء قسى قلبه, وجسر على الكبائر؛ لأن العلم حياة القلب

Wahai Ali, ketika datang 40 hari kepada seorang mukmin, dan (selama itu pula) ia tidak berkumpul dengan ulama, Maka keraslah hatinya, dan berani melakukan dosa besar. Karena (hakikatnya) ilmu itu (memiliki) hati yang malu (kepada Allah).” Terang putra almarhum KH. Ahmad Baidlowie Syamsuri, LC. H itu dalam pengajian. Hal tersebut senada dengan apa yang dijelaskan juga dalam Kitab Washiatul Musthofa karya Sayyid Abdul Wahab As Sya’roni.

Sosok yang akrab disapa Gus Shofi itu juga menambahkan, semua umat Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam itu akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.  Siapakah itu? Dijawab oleh sebuah hadits yang berbunyi

عن أبي هريرة ، أن رسول الله ﷺ قال: كل أمتي يدخل الجنة إلا من أبى قيل: ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

“Sesungguhnya rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam besabda: Tiap-tiap umatku akan  masuk surga kecuali yang tidak mau. Dikatakan: dan siapakah yang tidak mau tersebut wahai rasulullah? Jawabnya: Barang siapa taat kepadaku, maka ia akan masuk surga. dan barang siapa mendurhakaiku maka sungguh ia benar-benar tidak mau (masuk surga).” (HR. Bukhari)

Oleh karenanya, penting sekali dalam beramal kita niatkan untuk ittiba’ur rasul, mengikuti ajaran kanjeng Nabi Muhammad sallalllahu ‘alaihi wasallam. Karena hal tersebut merupakan bukti ketaatan kepada Allah dan rasulNya, sebagai modal dalam menggapai surga Allah ta’ala.

Demikianlah, tradisi-tradisi yang hingga kini masih dilestarikan oleh Warga Nahdliyin, masyarakat NU, bukanlah sesuatu yang selama ini dituding sebagai hal yang tidak sesuai dengan ajaran nabi. Justru, amaliah tersebut merupakan bentuk ikhtiar tokoh NU dalam ihya’us sunnah, menghidupkan ajaran kanjeng nabi. []

Berbagi ilmu:

Be the first to comment on "RAHASIA DIBALIK TRADISI PENGAJIAN RUTIN SELAPANAN"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*