Kisah Sahabat yang Beristri Sangat Galak

Maghligai pernikahan, tentu tidak selamanya berjalan mulus. Ada saat dimana pasangan suami istri saling bertengkar, ada saat pula mereka hidup rukun nan mesra. Karena memang inilah hidup, tidak mungkin selalu dalam kedamaian. Pun juga dengan keributan dalam rumah tangga, pasti akan menemui titik usainya.

Namun, bagaimana jadinya jika keributan selalu terjadi berulang-ulang. Lebih parahnya, sang suami adalah sasaran dari kemarahan seorang istri. Yang notabenenya suami adalah kepala keluarga, sang nahkoda bahtera pernikahan.

Seperti yang dikisahkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH Muhammad Shofy Al Mubarok dalam acara pernikahan salah satu santriwati.

Mengutip keterangan dalam Kitab Hasyiah ‘ala Syarhil Manhaj karya Syeikh Sulaiman bin Muhammad Al bujairomi Al faqih Al Syafi’i.

Dalam kitab tersebut diceritakan,
أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إلَى عُمَرَ يَشْكُو إلَيْهِ خُلُقَ زَوْجَتِهِ
Ada seorang sahabat yang ingin sowan ke kediaman Sayidina Umar berniat untuk mengadukan tentang perilaku istrinya.

Ya, dikisahkan sang istri memiliki watak yang sangat galak. Saking galaknya, hampir setiap hari sahabat tersebut menuai hujatan dari sang istri. Baik itu disebabkan hal sepele, maupun hal yang memang patut untuk diributkan. Baik itu memang salah suami, maupun hal itu adalaah aslinya merupakan salah istri, namun menjadi salah suami kembali karena ia kalah argumentasi. Na’udzubillah.

فَوَقَفَ بِبَابِهِ يَنْتَظِرُهُ
Setelah membulatkan tekad, maka berangkatlah ia ke rumah Sayidina Umar. Di sana, ia berdiri diambang pintu, mengetuk, mengucap salam, sembari menunggu Sayidina Umar keluar menemuinya.

فَسَمِعَ امْرَأَتَهُ تَسْتَطِيلُ عَلَيْهِ بِلِسَانِهَا وَهُوَ سَاكِتٌ لَا يَرُدُّ عَلَيْهَا
Beberapa saat ia menunggu, tak satu pun ia dapati penghuni rumah membukakan pintu. Tiba-tiba, sayup-sayup ia mendengar istri Sayidina Umar sedang berteriak-teriak, membentak-bentak. Sedang Sayidina Umar hanya diam seribu bahasa, tak menjawabnya sepatah kata pun.

فَانْصَرَفَ الرَّجُلُ قَائِلًا إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَكَيْفَ حَالِي
Merasa sungkan mengetahui hal itu. Sahabat tersebut lalu bergegas terburu-buru undur diri, khawatir jika Sayidina Umar mengetahui kedatangannya, sehingga menyebabkan Sayidina Umar malu. Sembari bergumam, “Jika Sang Amirul Mu’minin, Umar bin Khatab saja keadaaannya seperti ini, lalu bagaimana keadaanku?”

فَخَرَجَ عُمَرُ فَرَآهُ مُوَلِّيًا فَنَادَاهُ
Terlambat! Ternyata Sayidina Umar lebih dulu menyadari kedatangannya. Mengetahui jika sang sahabat mulai beranjak pergi. Buru-buru Sayidina Umar keluar dari rumah dan kemudian memanggilnya.

مَا حَاجَتُك يَا أَخِي
“Apa yang kau kehendaki wahai saudaraku?” tanya Sayidina Umar.

فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَشْكُو إلَيْك خُلُقَ زَوْجَتِي وَاسْتِطَالَتَهَا عَلَيَّ
Sahabat lalu menjawab, “Wahai pemimpin orang-orang beriman, saya ingin mengadu kepada anda tentang watak istriku yang selalu membentak-bentak diriku,

فَسَمِعْتُ زَوْجَتَكَ كَذَلِكَ فَرَجَعْت وَقُلْت إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ زَوْجَتِهِ فَكَيْفَ حَالِي
Maka kemudian aku mendengar istri anda pun demikian (juga memarahi anda), maka kuputuskan untuk pulang saja, dan aku pun bergumam “Jika Sang Amirul Mu’minin, Umar bin Khatab saja keadaaannya seperti ini dengan istrinya, lalu bagaimana keadaanku (terhadap istriku)?”

فَقَالَ لَهُ عُمَرُ إنَّمَا تَحَمَّلْتُهَا لِحُقُوقٍ لَهَا عَلَيَّ
Kemudian Sayidina Umar berkata kepadanya, “Sesungguhnya, aku menanggungnya, menahan amarahku, tidak ikut tersulut api emosi, dan memilih diam. Karena ia memiliki beberapa hak terhadapku.

Ya, Sayidina Umar tidak melawan hujatan istrinya karena ia sadar, ia begitu berhutang budi kepada istrinya. Mengapa demikian?

إنَّهَا طَبَّاخَةٌ لِطَعَامِي خَبَّازَةٌ لِخُبْزِي غَسَّالَةٌ لِثِيَابِي رَضَّاعَةٌ لِوَلَدِي
“Sesungguhnya istrilah yang memasak makananku, ia juga yang membuat rotiku, mencucikan pakaianku, ia pun juga menyusui anakku.

Sayidina Umar meyadari hal itu semua. Namun, bukankah itu memang kodrat seorang wanita? Oh, tunggu dulu.
Sayidina Umar menjelaskan,

وَلَيْسَ ذَلِكَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهَا
Ternyata semua hal itu bukanlah perkara yang wajib atau sebuah keharusan bagi sang istri.

Oleh karena itu, secara otomatis sang suami, jika ia sadar, ternyata berhutang budi banyak terhadap sang istri. Sayidina Umar melanjutkan,

وَيَسْكُنُ قَلْبِي بِهَا عَنْ الْحَرَامِ فَأَنَا أَتَحَمَّلُهَا لِذَلِكَ
Hati ku menjadi tenang karenanya , emosiku berhasil aku kendalikan agar tidak terjerumus perbuatan yang di haramkan , atas dasar itulah aku mampu bersabar,

Ya, karena menyadari betapa istri begitu berbudi kepadanya. sehingga ketika sang istri marah, ia akan memakluminya. Karena mungkin, itu adalah reaksi dari kelelahannya mengurus rumah tangga.

فَقَالَ الرَّجُلُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَكَذَلِكَ زَوْجَتِي
Sahabat lalu berkata, “Sesungguhnya istriku pun juga demikian” Sahabat pun akhirnya tersadar, sesungguhnya istrinya pun juga telah menyiapkan makanan, membuatkan roti, mencuci pakaiannya, menyusui anaknya, dengan sukarela.

Sayidina Umar pun menasehati,
قَالَ فَتَحَمَّلْهَا يَا أَخِي فَإِنَّمَا هِيَ مُدَّةٌ يَسِيرَةٌ
Maka, bersabarlah, biarkan ia berkeluh kesah, sesungguhnya kemarahannya itu tak lain hanyalah sesaat saja.

***
Ya, Alangkah indahnya sebuah hubungan rumah tangga jika didasari akan rasa kesadaran. Sadar akan kekurangan masing-masing, sadar akan keterbatasannya, dan sadar bahwa pasangannya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan.

Teringat akan kalam Syeikh Mutawali Asy Sya’rowi:

مَنِ ابْتَغَى صَدِيْقًا بِلاَ عَيْبٍ عَاشَ وَحِيْدًا
Barangsiapa mencari teman yang tanpa cacat cela,
maka dia akan hidup seorang diri
وَمَنِ ابْتَغَى زَوْجَةً بَلاَ نَقْصٍ عَاشَ اَعْزَبًا
Barangsiapa mencari istri yang bebas dari kekurangan,
maka ia akan hidup membujang (jomblo)
وَمَنِ ابْتَغَى حَبِيْبًا بِلَا مَشَاكِلٍ عَاشَ بَاحِثًا

Siapa yang ingin mencari kekasih tanpa rintangan,
maka hidupnya akan dilewati dengan mencari saja
(tidak akan pernah menemukan)
مَنِ ابْتَغَى قَرِيْبًا كَامِلًا عَاشَ قَاطِعًا لِرَحْمِهِ
Barangsiapa mencari kerabat yang sempurna,
maka ia akan hidup dengan memutus tali saudaranya.[]

Berbagi ilmu:

Be the first to comment on "Kisah Sahabat yang Beristri Sangat Galak"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*