Kartini Nyantri

Masih sedikit orang yang tahu, bahwa sumber inspirasi ibu Kita Kartini menggelorakan semangat belajar bagi kaum wanita adalah Al-Qur’an. Masih sedikit yang mengetahui, asal kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah ayat ke-257 Surat Al-Baqoroh; yang artinya “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegalapan (kufur) kepada cahaya (iman islam)”.

 

Sumber inspirasi itu didapat Kartini dari aktivitas mengaji. Dari Nyantri. Ayat istimewa dari Al-Qurán itulah yang menyentuh Nurani Kartini, sehingga dalam surat-suratnya kepada sahabatnya,  orang Belanda yang mendukungnya mendirikan sekolah putri untuk orang Jawa, Mr Jacque Henry Abendanon, ia sering menulis kalimat min al-dhulumati ila al-nur;  ‘’dari gelap menuju cahaya‘’

Dalam banyak suratnya  kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya”yang ditulisnya dalam bahasa Belanda. “Door Duisternis Toot Licht”. Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.

 

Santri dan Syarifah

Banyak orang yang belum mengerti bahwa Kartini adalah seorang santri, seorang alimah yang mendorong munculnya Tafsir Al-Qur’an pertama di Nusantara. Kalau Kartini tidak pernah “protes”karena tidak mengerti Bahasa Arab, mungkin sampai sekarang tidak pernah ada Tafsir Al-Qurán untuk kaum pribumi. Karena saat itu penjajah Belanda melarang penerjemahan Al-Qur’an atau penafsiran Al-Qur’an ke Bahasa non Arab. Bahkan saat itu para ulama mengharamkan penerjemahan Al-Qur’an.

Kartini berkata kepada gurunya, Simbah KH Sholeh Darat, tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Maka dia memohon agar diterjemahkan.

Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul”(pegon) sehingga tidak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Faidur-Rohman,  tafsir pertama di Nusantara dalam Bahasa non Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam Bahasa Jawa yang saya pahami.”

Kitab yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.

Kisah dinukil Prof KH Musa Al-Machfud Yogyakarta dari Kyai Muhammad Demak, dimuat di Majalah bulanan Aula, Surabaya, Edisi April 2012 hlm.21.

 

Islam Agama Kartini

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis: “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang islam sebagai agama yang disukai”

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis: “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu HambaAllah”.

“Jalan menuju Allah adalah jalan kearah kebebasan sejati hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia manapun, ia sebenar-benarnya bebas”(Raden Ajeng Kartini: 1903)

Islam adalah agama Kartini. Itulah statemennya yang ditulis dalam suratnya yang dihimpun dalam sebuah karya Door Duisternist to Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Meskipun pada masa Kartini Islam bukan menjadi agama yang mayoritas dipakai oleh kaum feudal.

                Ajaran islam yang ada di lingkungan Kartini sangat terbatas dan dibatasi gerak geriknya oleh Belanda karena hal ini bisa membahayakan kekuasaannya, sehingga wajar saja kalau Kartini tidak mengerti tentang islam kecuali hanyan kulitnya saja.

Lambat laun, ilmu dan pengalaman Kartini semakin bertambah karena rasa keingin tahuannya yang tinggi sehingga nama Allah yang asalnya hampa, sebuah kata yang hanya sebutan saja kini menjadi bermakna baginya dan  membuat hatinya tenang. Kartini merasakan sebuah kebahagiaan dalam beragama.

 

Epilog

Sesungguhnya, sangat banyak keistimewaan Kartini yang belum diketahui masyarakat luas. Termasuk status Kartini sebagai keturunan Rasulullah (seorang syarifah) bermarga Al-Habsyi, dari jalur ibunya yang keturunan Raja Madura. Keterangan soal Kartini keturunan Nabi, ada di buku Kartini Nyantri karya Amirul Ulum yang diterbirkan Penerbit Aswaja Pressiindo Yogyakarta tahun 2015, halaman 42-45.

Kita yang setiap tanggal 21 April mempringati Hari Lahir Kartini, mungkin tidak menyadari bahwa Kartini adalah satu-satunya tokoh, satu-satunya pahlawan, yang diperingati hari lahirnya, Maulidnya, bukan hari wafatnya.

Para wali dan keturunan Rasulullah pun hanya diperingati hari wafatnya alias haul. Sedangkan Kartini, sungguh telah diberi keramat oleh Gusti Allah berupa peringatan yang sama dengan Rasulullah, yaitu Maulid Kartini setiap 21 April.

Secara berseloroh Habib Luthfi bin Yahya, seorang habib/syarif yang menjadi pemimpin sufi internasional berkata dalam suatu pengajiannya; “Ibu Kita Kartini yang keturunan Rasulullah ternyata lebih istimewa dari kakek moyangnya. Lha peringatan Maulid Nabi diributkan orang, tapi Maulid Kartini tidak pernah diributkan. Bahkan orang-orang yang anti Maulid Nabi pun ikut meramaikan Maulid Kartini”.

Dari kisah-kisah istimewa tentang pahlawan kita inilah, kita yang telah menyebut Kartini sebagai “Ibu Kita”, sudah selayaknya terus menggali berbagai inspirasi dari beliau. Karena itulah perlu menggelar aneka kegiatan untuk mengenang Kartini dengan segala hikmah yang bisa dipetik darinya.

” adalah ayat ke-257 Surat Al-Baqoroh; yang artinya “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegalapan (kufur) kepada cahaya (iman islam)”.

 

Sumber inspirasi itu didapat Kartini dari aktivitas mengaji. Dari Nyantri. Ayat istimewa dari Al-Qurán itulah yang menyentuh Nurani Kartini, sehingga dalam surat-suratnya kepada sahabatnya,  orang Belanda yang mendukungnya mendirikan sekolah putri untuk orang Jawa, Mr Jacque Henry Abendanon, ia sering menulis kalimat min al-dhulumati ila al-nur;  ‘’dari gelap menuju cahaya‘’

Dalam banyak suratnya  kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya”yang ditulisnya dalam bahasa Belanda. “Door Duisternis Toot Licht”. Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.

 

Santri dan Syarifah

Banyak orang yang belum mengerti bahwa Kartini adalah seorang santri, seorang alimah yang mendorong munculnya Tafsir Al-Qur’an pertama di Nusantara. Kalau Kartini tidak pernah “protes”karena tidak mengerti Bahasa Arab, mungkin sampai sekarang tidak pernah ada Tafsir Al-Qurán untuk kaum pribumi. Karena saat itu penjajah Belanda melarang penerjemahan Al-Qur’an atau penafsiran Al-Qur’an ke Bahasa non Arab. Bahkan saat itu para ulama mengharamkan penerjemahan Al-Qur’an.

Kartini berkata kepada gurunya, Simbah KH Sholeh Darat, tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Maka dia memohon agar diterjemahkan.

Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf “arab gundul”(pegon) sehingga tidak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an ini diberi nama Faidur-Rohman,  tafsir pertama di Nusantara dalam Bahasa non Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam Bahasa Jawa yang saya pahami.”

Kitab yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat.

Kisah dinukil Prof KH Musa Al-Machfud Yogyakarta dari Kyai Muhammad Demak, dimuat di Majalah bulanan Aula, Surabaya, Edisi April 2012 hlm.21.

 

Islam Agama Kartini

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis: “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang islam sebagai agama yang disukai”

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis: “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu HambaAllah”.

“Jalan menuju Allah adalah jalan kearah kebebasan sejati hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia manapun, ia sebenar-benarnya bebas”(Raden Ajeng Kartini: 1903)

Islam adalah agama Kartini. Itulah statemennya yang ditulis dalam suratnya yang dihimpun dalam sebuah karya Door Duisternist to Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Meskipun pada masa Kartini Islam bukan menjadi agama yang mayoritas dipakai oleh kaum feudal.

                Ajaran islam yang ada di lingkungan Kartini sangat terbatas dan dibatasi gerak geriknya oleh Belanda karena hal ini bisa membahayakan kekuasaannya, sehingga wajar saja kalau Kartini tidak mengerti tentang islam kecuali hanyan kulitnya saja.

Lambat laun, ilmu dan pengalaman Kartini semakin bertambah karena rasa keingin tahuannya yang tinggi sehingga nama Allah yang asalnya hampa, sebuah kata yang hanya sebutan saja kini menjadi bermakna baginya dan  membuat hatinya tenang. Kartini merasakan sebuah kebahagiaan dalam beragama.

 

Epilog

Sesungguhnya, sangat banyak keistimewaan Kartini yang belum diketahui masyarakat luas. Termasuk status Kartini sebagai keturunan Rasulullah (seorang syarifah) bermarga Al-Habsyi, dari jalur ibunya yang keturunan Raja Madura. Keterangan soal Kartini keturunan Nabi, ada di buku Kartini Nyantri karya Amirul Ulum yang diterbirkan Penerbit Aswaja Pressiindo Yogyakarta tahun 2015, halaman 42-45.

Kita yang setiap tanggal 21 April mempringati Hari Lahir Kartini, mungkin tidak menyadari bahwa Kartini adalah satu-satunya tokoh, satu-satunya pahlawan, yang diperingati hari lahirnya, Maulidnya, bukan hari wafatnya.

Para wali dan keturunan Rasulullah pun hanya diperingati hari wafatnya alias haul. Sedangkan Kartini, sungguh telah diberi keramat oleh Gusti Allah berupa peringatan yang sama dengan Rasulullah, yaitu Maulid Kartini setiap 21 April.

Secara berseloroh Habib Luthfi bin Yahya, seorang habib/syarif yang menjadi pemimpin sufi internasional berkata dalam suatu pengajiannya; “Ibu Kita Kartini yang keturunan Rasulullah ternyata lebih istimewa dari kakek moyangnya. Lha peringatan Maulid Nabi diributkan orang, tapi Maulid Kartini tidak pernah diributkan. Bahkan orang-orang yang anti Maulid Nabi pun ikut meramaikan Maulid Kartini”.

Dari kisah-kisah istimewa tentang pahlawan kita inilah, kita yang telah menyebut Kartini sebagai “Ibu Kita”, sudah selayaknya terus menggali berbagai inspirasi dari beliau. Karena itulah perlu menggelar aneka kegiatan untuk mengenang Kartini dengan segala hikmah yang bisa dipetik darinya.

(Ahmad Mundzir dan Ikhwan Ds, keduanya merupakan penulis aktif di situs resmi PBNU, NU Online)

*Artikel ini merupakan arsip Majalah Gema Sirojuth Tholibin tahun 2015.

Berbagi ilmu:

Be the first to comment on "Kartini Nyantri"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*