<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sirojuth-tholibin.net</title>
	<atom:link href="http://sirojuth-tholibin.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sirojuth-tholibin.net</link>
	<description>Situs Resmi Pesantren Sirojuth Tholibin  Brabo, Grobogan Jawa Tengah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 17 May 2013 00:09:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Keluar Sperma, Mengapa Harus Mandi?</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/05/keluar-sperma-mengapa-harus-mandi/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/05/keluar-sperma-mengapa-harus-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 May 2013 00:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[air mani]]></category>
		<category><![CDATA[air sperma]]></category>
		<category><![CDATA[alasan medis tentang mandi besar]]></category>
		<category><![CDATA[mandi besar]]></category>
		<category><![CDATA[mandi junub]]></category>
		<category><![CDATA[mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[sebab mandi besar]]></category>
		<category><![CDATA[sebab mandi wajib]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth Tholibin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2295</guid>
		<description><![CDATA[ Fiqih mengharuskan siapapun yang mengeluarkan air sperma atau air mani baik karena mimpi basah atau karena bersetubuh dengan istri ataupun karena onani (istimta’) wajiblah mandi. Padahal fiqih juga menerangkan bahwa...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/05/13678959731.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2297" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/05/13678959731.jpg" alt="" width="300" height="163" /></a> Fiqih mengharuskan siapapun yang mengeluarkan air sperma atau air mani baik karena mimpi basah atau karena bersetubuh dengan istri ataupun karena onani (<em>istimta’</em>) wajiblah mandi. Padahal fiqih juga menerangkan bahwa air mani adalah suci (tidak najis), berbeda halnya dengan air kencing yang najis.</p>
<p>Pertanyaan yang sering muncul kemudian bagaimana bisa mengeluarkan seseuatu yang suci malah diwajibkan mandi, sedangkan mengeluarkan yang najis cukup dengan bersuci (<em>istinja’</em>/cebok) saja, dan cukup berwudhu jika ingin menjadi suci?</p>
<p>Pertama dalil dari hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Abi Said berbunyi:</p>
<p><strong>الماء من الماء</strong></p>
<p><em>Bermula air (kewajiban mandi) itu dari sebab air (keluar air mani)</em></p>
<p>Demikian pula riwayat Ummi Salah ra. bahwa Ummul Sulaim berkata “Ya Rasulullah, bahwa Allah swt tidak malu menyatakan yang haq, apakah wajib seorang perempuan mandi apabila ia mimpi jimak?” Rasulullah menjawab “ya, apabila ia melihat air (mani)”.</p>
<p>Kedua hadits di atas merupakan dasar yang telah disepakati oleh para Imam Fiqih, bahwa mengeluarkan mani mewajibkan seseorang mandi. Adapun mengenai kesucian air mani adalah pernyataan Rasulullah saw dalam haditsnya ketika ditanya seseorang mengenai mani yang terkena pakaian, beliaupun menjawab:</p>
<p dir="RTL"><strong>إنما هو بمنزلة المخاط والبصاق وإنمايكفيك أن تمسحه بخرقة أو إذخرة</strong></p>
<p><em>Bahwasannya mani itu setingkat dengan ingus dan ludah, cukuplah bagimu menyapunya dengan percikan air atau idzkhirah (sebangsa rumput wangi).</em></p>
<p>Jika dalil-dalil tersebut dengan jelas menerangkan kesucian mani dan kewajiban mandi karena keluar mani, tetapi dalil-dalil itu belum menggambarkan adanya hubungan sebab-akibat (keluar mani yang suci mengakibatkan wajib mandi).</p>
<p>Sebagian ulama seperti yang ditulis oleh Ibnu Rusyd dalam <em>Bidayatul Mujtahid,</em><em> </em>menjelaskan bahwasannya alasan (<em>illat</em>)<em> </em>diwajibkannya mandi ketika keluar mani adalah adanya rasa nikmat dan lezat yang mengiringi keluarnya mani itu. Maka mereka yang berpendapat demikian tidak mewajibkan mandi bagi orang yang keluar mani tanpa rasa nikmat seperti mereka yang teramat pulas dalam tidur, maka ia tidak diwajibkan mandi.</p>
<p>Hal ini mungkin dapat dijadikan alasan mengenai proses diwajibkannya mandi, tetapi belum bisa menjawab asal masalah “mengapa mengeluarkan barang yang suci harus mandi, sedangkan mengeluarkan air kencing yang najis tidak perlu mandi?”</p>
<p>Bahwasannya dalam catatan ilmu kedokteran ‘<em>ilmut thibb</em>’ diterangkan dalam sekali tumpahan mani terdapat 2 000 000 000 (dua milyar) benih kehidupan spermatozoid. Maka siapapun yang keluar mani akan kehilangan energy sebanyak itu. Sebagai dampaknya orang yang keluar mani akan segera lemas dan berkurang tenaganya. Hal ini tidak bisa dipulihkan hanya dengan membasuh dzakar ataupun alat kelamin  saja. Tetapi harus dengan cara membasahi badan secara merata terutama dengan air hangat.</p>
<p>Oleh karena itu sebaiknya setelah keluar mani segeralah mandi, agar tubuh kuat kembali. Ini sangat berbeda dengan mengeluarkan air kencing yang hanya mengandung kotoran dari dalam tubuh manusia. Dan cukup dengan membersihkan alat keluarnya. Meskipun keduanya (air mani dan air kencing) keluar dari lubang alat yang sama tetapi keduanya adalah materi yang bebeda.<em>Wallahu a’lam. (www.nu.or.id)</em></p>
<p style="text-align: right">&#8220;Sirojuth Tholibin&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/05/keluar-sperma-mengapa-harus-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khasiat Sholat subuh dalam pandangan medis</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/05/khasiat-sholat-subuh-dalam-pandangan-medis/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/05/khasiat-sholat-subuh-dalam-pandangan-medis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 May 2013 04:10:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Brabo]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth]]></category>
		<category><![CDATA[Sub]]></category>
		<category><![CDATA[Subuh]]></category>
		<category><![CDATA[Subuh Brabo]]></category>
		<category><![CDATA[Tholibin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2288</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Bicara soal sholat subuh sepertinya sulit, eiittss jangan salah paham dulu sulit baangun maksud saya bagi yang tidak terbiasa sholat subuh , pasti udah taulah sholat subuh itu apa, sholat...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'"><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/05/sdsdsddsdss.jpg"><img class="size-full wp-image-2290 alignleft" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/05/sdsdsddsdss.jpg" alt="" width="259" height="194" /></a>Bicara soal sholat subuh sepertinya sulit, eiittss jangan salah paham dulu sulit baangun maksud saya bagi yang tidak terbiasa sholat subuh , pasti udah taulah sholat subuh itu apa, sholat subuh adalah sholat yang dilakukan di waktu sebelum fajar , sholat ini memiliki banyak manfaat bagi bkesehatan yang terletak pada waktu sholat dan juga gerakan sholatnya . terkadang kita bertanya pada allah mengapa kita harus terbangun subuh-subuh ketika kita masih sangat mengantuk  dan juga dingin,berikut ini merupakan bukti medis mengenai kehebtan sholat subuh  diantaranya adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'">Pada waktu jam 6 pagi sampai 12 siang, serangan jantung akan menjadi cepat pada saat tersebut, pada saat itu terjadi peningkatan tegangan saraf simpatis, dan penurunan tegangan saraf  parasimpatis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'">Saat dini hari sekitar pukul 3 pagi sampai siang hari, secara perlahan terjadi peningkatan adrenalin dalam tubuh manusia yang menyebabkan tekanan darah meningkat, kemudian terjadi peningkatan aktifitas agregasi trombosit, (sifat saling menempel pada sel trombosit yang mengakibatkan darah membeku) pada saat tidur penyempitan pembuluh darah berefek negative karna pengaruh lancar  atau tidaknya aliran darah , tubuh  memerlukan suatu zat yang ada pada sel pembuluh darah untuk melebarkan kembali pembuluh darah zat itu disebut NO (nitric oksida)</span></p>
<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/05/ssssssss.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2289" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/05/ssssssss.jpg" alt="" width="240" height="204" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'">Ketika kita bangun di pagi hari untuk sholat sub uh tubuhpun akan aktif menaikan kadar NO dalam tubuh, gerakan-gerakan yang dilakukan saat sholet subuh  membuat produksi zat NO naik lebih cepat sehingga mencegah darah membeku karna efek agregasi trombosit berkurang .</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'">Di tambah lagi kita mandi terlebih dahulu sebelum sholat subuh  dapat membuat kita lebih sehat lagi, karna tubuh cepat bangun dari rasa lemas dan mengantuk sehingga pikiran jadi cemerlang,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'">Mandi sebelum sholat memiliki keuntungan berharga yaitu kita melaksanakan sholat subuh dengan keadaan tubuh segar dan pikiran jernih sehingga bisa menghadap Allah dengan percaya diri.Bangun di pagi buta dan melakukan gerakan, maka dipastikan akan membantu mencegah penyakit kardiovaskular. Semoga untuk keesokan harinya kita lebih giat bangun dini hari guna mengambil banyak-banyak manfaat kesehatan jasmani dan rohani.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'">Sekarang bagi para muslim dan muslimah tidak sia-siakan allah memerintahkan kita untuk bangun di pagi hari saat tubuh kita lemas dan masih sangat mengantuk, sholat subuh tidak hanya bermanfaat bagi rohani tetapi juga jasmani. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12.0pt;font-family: 'Times New Roman','serif'">Subhanallah….</span></p>
<p>sirojuth Tholibin Brabo</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/05/khasiat-sholat-subuh-dalam-pandangan-medis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brosur Penerimaan Santri Baru (PSB)</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/04/brosur-penerimaan-santri-baru-psb/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/04/brosur-penerimaan-santri-baru-psb/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 09:48:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[BARU]]></category>
		<category><![CDATA[bro]]></category>
		<category><![CDATA[Brosur]]></category>
		<category><![CDATA[Grobogan]]></category>
		<category><![CDATA[penerimaan]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[psb]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<category><![CDATA[santri baru]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth Tholibin Brabo]]></category>
		<category><![CDATA[sur]]></category>
		<category><![CDATA[Tanggungharjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2281</guid>
		<description><![CDATA[Bagi  yang  ingin mengetahui informasi PSB (penerimaan santri baru) Ponpes. Sirojuth Tholibin dapat melihat pada Brosur berikut :]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center">Bagi  yang  ingin mengetahui informasi PSB (penerimaan santri baru) Ponpes. Sirojuth Tholibin dapat melihat pada Brosur berikut :</p>
<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/04/Brosur-depan-website.jpg"><img class="size-full wp-image-2283 aligncenter" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/04/Brosur-depan-website.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/04/Brosur-OK-dalam-rgb-website.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2284" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/04/Brosur-OK-dalam-rgb-website.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/04/brosur-penerimaan-santri-baru-psb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Rakaat Sholat</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/04/rahasia-rakaat-sholat/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/04/rahasia-rakaat-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Apr 2013 23:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah rokaat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia rokaat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Rokaat sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat dan rahasianya]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth Tholibin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2275</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Ali at-Tirmidzi mengatakan bahwa shalat adalah tiang agama. Shalat merupakan perkara yang pertama kali difardhukan oleh Allah swt. kepada kaum muslimin. Begitu pentingnya posisi shalat dalam Islam, sehingga pemaknaan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/04/shalat-anak.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2276" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/04/shalat-anak.jpg" alt="" width="234" height="248" /></a>Muhammad Ali at-Tirmidzi mengatakan bahwa shalat adalah tiang agama. Shalat merupakan perkara yang pertama kali difardhukan oleh Allah swt. kepada kaum muslimin. Begitu pentingnya posisi shalat dalam Islam, sehingga pemaknaan atasnya tidak pernah habis. Seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Nawawi al-Bantani mengenai rahasia bilangan dalam shalat.</p>
<p>Dalam kitabnya Syarah Sulamul Munajah menjelaskan adanya rahasia dibalik angka-angka dalam shalat. Lima waktu yang diwajibkan oleh Allah swt. kepada muslim menunjukkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan-Nya atas lima indera perasa ‘panca indra’ sekaligus merupakan upaya menutup berbagai keburukannya.</p>
<p>Oleh karena itu <strong>dua</strong> rakaat shalat shubuh merupakan panjatan rasa syukur atas kedua bibir  yang terdapat dalam indera pengecap (mulut). Karena hanya dengan keduanyalah kita bisa merasai segala hal yang bersifat halus maupun kasar.</p>
<p>Sedangkan <strong>empat</strong> rakaat shalat dhuhur menunjuk pada rasa syukur kita atas indera penciuman (hidung) yang dapat mencium berbagai bau dari empat arah. Dengan demikian empat rakaat dhuhur sekalijgus dapat dijadikan sebagai semangat menutup keburukan yang datang dai empat arah itu juga.</p>
<p><strong>Empat</strong> rakaat shalat ashar merupakan apresiasi manusia rasa syukur atas indera pendengaran (telinga) yang dapat menerima berbagai jenis suara dari empat arah.</p>
<p>Adapun <strong>tiga</strong> raka’at maghrib menunjukkan rasa syukur manusia atas kemampuan melihat yang datang dari tiga arah; depan, kanan dan kiri. Sedangkan penglihatan kearah belakang tidak mungkin bisa.</p>
<p>Dan yang terakhir adalah <strong>empat</strong> rakaat shalat isya’ merujuk pada rasa syukur manusia atas nikmat atas empat macam rasa; dingin, panas, pahit dan manis. Demikianlah rahasia angka yang berhubungan dengan rakaat shalat. (SARKUB.COM)</p>
<p>PP. Sirojuth Tholibin, Brabo</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/04/rahasia-rakaat-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galery Haflah Khotmil Qur&#8217;an Ke 24 dan Haul Al Maghfurlah Simbah Syamsuri Dahlan Ke 25</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Feb 2013 08:10:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[24]]></category>
		<category><![CDATA[Galery Haflah Khotmil Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Haul Simbah Syamsuri Ke 25]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth Tholibin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2254</guid>
		<description><![CDATA[Sirojuth-tholibin.net&#8230; Berikut kami tampilkan galery event   Haflah Khotmil Qur&#8217;an Ke 24 dan Haul Al Maghfurlah Simbah Syamsuri Dahlan Ke 25 Ponpes. Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan :]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sirojuth-tholibin.net</strong>&#8230; Berikut kami tampilkan galery event   Haflah Khotmil Qur&#8217;an Ke 24 dan Haul Al Maghfurlah Simbah Syamsuri Dahlan Ke 25 Ponpes. Sirojuth Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan :</p>

<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-1-2/' title='Haul 1'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/Haul-11-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Haul 1" title="Haul 1" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-3/' title='haul 3'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-3-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 3" title="haul 3" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-4/' title='haul 4'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-4-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 4" title="haul 4" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-5/' title='haul 5'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-5-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 5" title="haul 5" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/dsc_0511/' title='DSC_0511'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/DSC_0511-e1362038818582-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="DSC_0511" title="DSC_0511" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-18/' title='haul 18'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-18-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 18" title="haul 18" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-14/' title='haul 14'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-14-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 14" title="haul 14" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-15/' title='haul 15'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-15-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 15" title="haul 15" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-16/' title='Haul 16'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/Haul-16-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Haul 16" title="Haul 16" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-17/' title='haul 17'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-17-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 17" title="haul 17" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-19-2/' title='haul 19'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-191-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 19" title="haul 19" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-2/' title='haul 2'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-2-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 2" title="haul 2" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-8/' title='haul 8'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-8-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 8" title="haul 8" /></a>
<a href='http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/haul-10/' title='haul 10'><img width="150" height="150" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/haul-10-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="haul 10" title="haul 10" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/galery-haflah-khotmil-quran-ke-24-dan-haul-al-maghfurlah-simbah-syamsuri-dahlan-ke-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FIKIH: STATUS ANAK ZINA</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/fikih-status-anak-zina/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/fikih-status-anak-zina/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2013 10:47:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahtsul Masa'il]]></category>
		<category><![CDATA[anak hasil zina]]></category>
		<category><![CDATA[Brabo]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth Tholibin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2248</guid>
		<description><![CDATA[PERTANYAAN: BAlada YUdisthira Mbah minta dalilnya status anak zina lahir sblum dan ssudah 6bulan.. Matur nuwun.. &#160; JAWABAN: &#160; &#62;&#62; Mbah Jenggot: &#160; Status anak yang dilahirkan diperinci sebagai berikut :...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center"><strong><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/Untuk-gambar.jpg"><img class="wp-image-2249 aligncenter" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/Untuk-gambar.jpg" alt="" width="528" height="396" /></a>PERTANYAAN:</strong></p>
<p><strong>BAlada YUdisthira</strong></p>
<p><strong>Mbah minta dalilnya status anak zina lahir sblum dan ssudah 6bulan..</strong></p>
<p><strong>Matur nuwun..</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>JAWABAN:</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&gt;&gt; Mbah Jenggot:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Status anak yang dilahirkan diperinci sebagai berikut :</p>
<p>Jika dilahirkan lebih dari enam bulan dan kurang dari empat tahun setelah akad nikahnya, maka ada dua keadaan</p>
<p>Jika ada kemungkinan anak tersebut dari suami, karena ada hubungan badan setelah akad nikah misalnya, maka nasabnya tetap ke suami, berarti berlaku baginya hukum-hukum anak seperti hukum waris dll. Karena itu suami diharamkan meli’an istrinya atau meniadakan nasab anak tersebut darinya (tidak mengakui sebagai anaknya).</p>
<p>Jika tidak memungkinkan anak tersebut darinya seperti belum pernah ada hubungan badan semenjak akad nikah hingga melahirkan, maka nasab anak hanya ke istri bahkan wajib bagi suami meli’an dengan meniadakan nasab anak darinya (tidak mengakui sebagai anaknya). Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi hak waris kepada anak.</p>
<p>Jika dilahirkan kurang dari enam bulan atau lebih dari empat tahun, maka anak tersebut tidak bisa dinasabkan kepada suami dan tidak wajib bagi suami untuk meli’an istrinya. Bagi anak tidak berhak mendapatkan waris karena tidak ada sebab-sebab yang mendukung hubungan nasab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini berlaku bagi anak yang dilahirkan laki-laki ataupun perempuan. Berarti bapak sebagai wali dalam menikahkan anak perempuannya jika diakui nasabnya dan hakim sebagai walinya jika tidak diakui nasabnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perlu diperhatikan, walaupun status anak tidak bisa dinisbatkan kepada suami, tetap dinyatakan mahram baginya dikarenakan dia menjadi suami ibunya yang melahirkannya (bapak tiri) jika telah berhubungan badan dengan ibu yang melahirkannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>CATATAN : perempuan yang hamil di luar nikah jika dinikahkan dengan laki-laki yang berhubungan badan dengannya atau yang lainnya dengan tujuan menutupi aib pelaku atau menjadi ayah dari anak dalam kandungan, maka haram hukumnya dan wajib bagi penguasa membatalkan acara itu. Bagi yang menghalalkan acara itu dengan tujuan tersebut di atas, dihukumi keluar dari agama islam dan dinyatakan murtad (haram dishalati jika meninggal, dan tidak dikubur dimakam islam) karena adanya penipuan nasab dengan berkedok agama sehingga mengakui bayi yang lahir sebagai anaknya padahal diluar nikah, mendapatkan warisan padahal sebenarnya bukan dzawil furudh, menjadi wali nikah jika yang lahir perempuan padahal bukan menjadi ayahnya yang sebenarnya (berarti nikahnya tidak sah), atau anak yang lahir menjadi wali nikah dari keluarga laki-laki yang mengawini ibunya, bersentuhan kulit dengan saudara perempuan laki-laki itu dengan berkeyakinan tidak membatalkan wudlu’ dst.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‎[3] بغية المسترشدين ص235 – 236</p>
<p>( مسئلة ي ش ) نكح حاملا من الزنا فولدت كاملا كان له أربعة أحوال إما منتف عن الزوج ظاهرا وباطنا من غير ملاعنة وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الإجتماع بعد العقد أو لأكثر من أربع سنين من آخر إمكان الإجتماع وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثا وغيره ظاهرا ويلزم نفيه بأن ولدت لأكثر من الستة وأقل من الأربع السنين وعلم الزوج أو غلب على ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه أو ولدت لدون ستة أشهر من وطئه أو لأكثر من أربع سنين منه أو لأكثر من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضه وثم قرينة بزناها ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة وورد أن تركه كفر وإما لاحق به ظاهرا أيضا لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلبة بأن استبرأها بعد الوطء وولدت به لأكثر من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها إذ الاستبراء أمارة ظاهرة على أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة وورد أنه كفر إن غلب على ظنه أنه منه أو استوى الأمران بأن ولدت لستة أشهر فأكثر إلى أربع سنين من وطئه ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولدت بعده بأقل من الستة بل يلحقه بحكم الفراش كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة فالحاصل أن المولود على فراش الزوج لاحق به مطلقا إن أمكن كونه منه ولا ينتقي منه إلا بللعان والنفي تارة يجب وتارة يحرم وتارة يجوز ولاعبرة بإقرار المرأة بالزنا وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 327)</p>
<p>(قوله: لا مخلوقة من ماء زناه) أي لا يحرم نكاح مخلوقه من ماء زناه: إذ لا حرمة لماء الزنا لكن يكره نكاحها خروجا من خلاف الامام أبي حنيفة رضي الله عنه.ومثل المخلوقة من ماء الزنا المخلوقة من ماء استمنائه بغير يد حليلته والمرتضعة بلبن الزنا، وإن أرضعت المرأة بلبن زنا شخص بنتا صغيرة حلت له، ولا يقاس على ذلك المرأة الزانية، فإنها يحرم عليها ولدها بالاجماع.والفرق أن البنت انفصلت من الرجل وهي نطفة قذرة لا يعبأ بها، والولد</p>
<p>انفصل من المرأة وهو إنسان كامل</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‎[4] مصنف ابن أبي شيبة – (ج 8 / ص 374(</p>
<p>(21) مسألة النكاح بغير ولي (1) حدثنا معاذ بن معاذ قال أخبرنا ابن جريح عن سليمان بن موسى عن الزهري عن عروة عن عائشة قالت : قال رسول الله (ص) : (أيما امرأة لم ينكحها الولي أو الولاة فنكاحها باطل – قالها ثلاثا – فإن أصابها فلها مهرها بما أصاب منها ، فإن تشاجروا فإن السلطان ولي من لا ولي له).</p>
<p>[5] بغية المسترشدين ص 249 – 250</p>
<p>( مسئلة ) ملخصة مع زيادة من الإكسير العزيز للشريف محمد بن أحمد عنقاء في حديث الولد للفراش الخ إذا كانت المرأة فراشا لزوجها أو سيدها فأتت بولد من الزنا كان الولد منسوبا لصاحب الفراش لا إلى الزاني فلا يلحقه الولد ولا ينسب إليه ظاهرا ولا باطنا وإن استلحقه ومن هنا يعلم شدة ما اشتهر أنه إذا زنى شخص بإمرأة وأحبلها تزوجها واستلحق الولد فورثه وورثه زاعما سترها وهذا من أشد المنكرات الشنيعة التي لا يسع أحدا السكوت عنها فإنه خرق للشريعة ومنابذة لأحكامها ومن لم يزله مع قدرته بنفسه وماله فهو شيطان فاسق ومداهن منافق وأما فاعله فكاد يخلع ربقة الإسلام لأنه قد أعظم العناد لسيد الأنام مع ما ترتب على فعله من المنكرات والمفاسد منها حرمان الورثة وتوريث من لا شيء له مع تخليد ذلك في البطون بعده ومنها أنه صير ولد الزنا باستلحاقه كابنه في دخوله على محارم الزاني وعدم نقض الوضوء بمسهن أبدا ومنها ولايته وتزويجه نساء الزاني كبناته وأخوته ومن له عليها ولاية من غير مسوغ فيصير نكاحا بلا ولي فهذه أعظم وأشنع إذ يخلد ذلك فيه وفي ذريته ويله فما كفاه أن ارتكب أفحش الكبائر حيث زنى حتى ضم إلى ذلك ما هو أشد حرمة منه وأفحش شناعة وأي ستر وقد جاء شيئا فريا وأحرم الورثة وأبقاه على كرور الملوين وكل من استحل هذا فهو كافر مرتد خارج عن دين الإسلام فيقتل وتحرق جيفته أو تلقى للكلاب وهو صائر إلى لعنة الله وعذابه الكبير فيجب مؤكدا على ولاة الأمور زجرهم عن ذلك وتنكيلهم أشد التنكيل وعقابهم بما يروعهم وقد علم بذلك شدة خطر الزنا وأنه من أكبر الكبائر ( مسئلة ي ) حملت إمرأة وولدت ولم تقر بالزنا لم يلزمها الحد إذ لا يلزم الحد إلا ببينة أو إقرار أو لعان زوج أو علم السيد بالنسبة إلى قنة إذ قد توطأ المرأة بشبهة أو وهي نائمة أو سكرانة بعذر أو مجنونة أو مكرهة أو تستدخل منيا من غير إيلاج ونحو ذلك فتحبل منه ولا يوجب حدا للشبهة فعلم أن كل امرأة حملت وأتت بولد إن أمكن لحوقه بزوجها لحقه ولم ينتف عنه إلا باللعان وإن لم يكن كأن طالت غيبة الزوج بمحل لا يمكن اجتماعهما عادة كان حكم الحمل كالزنا بالنسبة لعدم وجوب العدة وجوز انكاحها وطئها وكالشبهة بالنسبة لدرء الحد والقذف واجتناب سوء الظن نعم إن كانت قليلة الحياء والتقوى كثيرة الخلوة بالأجانب والتزين لهم وتحدث الناس بقذفها عزرها الإمام بما يزجر أمثالها عن هذا الفعل</p>
<p>==============</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>tanya &gt;&gt;&gt;Ibu&#8217;e Rifa: dulu jg pernah denger katanya setelah anakya lahir musti nikah ulang lg.agar sah buat sianak jg ibunya.apakah itu benar&#8230;matur suwun&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>jawab &gt;&gt;&gt;</p>
<p>Mbah Jenggot:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‎Ibu&#8217;e Rifa Ulama beda pendapat,berikut jawaban yg pernah disampekan digrup ini&gt;&gt;Secara spesifik sebenarnya ada lima pendapat berbeda tentang hukum menikahi wanita pezina:</p>
<p>1. Mutlak tidak sah. Didukung oleh Ali, Aisyah, dan Bara’ ibn ‘Azib. Serta masing-masing satu riwayat Abu Bakar, Umar, Ibnu Mas’ud, dan Hasan Bashri (al-Hawi al-Kabir 9/492-493, al-Mughni Ibnu Qudamah 7/518, Tafsir al-Alusi 13/326).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pandangan ini didasarkan pada QS. An-Nur: 3, yakni</p>
<p>الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p>“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Mutlak sah. Didukung oleh asy-Syafi’ie dan madzhabnya (al-Hawi al-Kabir 9/497-498).</p>
<p>Kalangan Syafi’iyah berargumen pada ayat 24 QS. An-Nisa:</p>
<p>وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ</p>
<p>“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ayat an-Nisa itu turun setelah menjelaskan wanita-wanita yang haram dinikahi. Dengan demikian selain wanita yang telah disebutkan halal untuk dinikahi, termasuk wanita yang berzina.</p>
<p>Dikuatkan dengan sabda Nabi SAW:</p>
<p>لَا يُحَرِّمُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ</p>
<p>“Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan/menjadikan mahram pada (orang) yang halal” (HR. ibnu Majah dan Baihaqi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Abu Bakar berkata: Bila seseorang menzinai wanita lain maka tidak haram bagi orang itu untuk menikahinya.</p>
<p>Sedangkan mengenai Surat an-Nur ayat 3, al-Mawardi (al-Hawi al-Kabir 9/494) menyebut ada tiga takwilan terhadap ayat ini:</p>
<p>- Ayat itu turun khusus pada kisah Ummu Mahzul, yakni ketika ada seorang laki-laki meminta izin Rasulullah akan wanita pelacur bernama Ummu Mahzul.</p>
<p>- Ibnu Abbas mengartikan kata ‘yankihu’ dengan ‘bersetubuh’, sehingga maksud ayat tersebut: “Laki-laki yang berzina tidak bersetubuh melainkan (dengan) perempuan yang berzina…dst.”</p>
<p>- Menurut Sa’id ibn Musayyab telah dinasakh oleh QS. An-Nisa ayat 3:</p>
<p>فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ</p>
<p>“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3. Sah dengan syarat selama menikah tidak berhubungan badan dengan istri sampai dia melahirkan. Didukung oleh Abu Hanifah dalam satu riwayat (asy-Syarh al-Kabir 7/502-503, al-Hawi al-Kabir 9/497-498).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Abu Hanifah berargumen meskipun sah dinikahi, tapi tidak boleh disetubuhi sebelum melahirkan. Termaktub dalam hadits:</p>
<p>لَا تَسْقِ بِمَائِكَ زَرْعَ غَيْرِكَ</p>
<p>“Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan air (mani)nya ke tanaman [35] orang lain” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4. Sah dengan syarat menikahnya dilakukan setelah wanita melahirkan (istibra’). Didukung oleh Rabi’ah, Sufyan Tsauri, Malik, Auza’ie, Ibnu Syubrumah, Abu Yusuf, dan Abu Hanifah dalam riwayat yang lain (al-Hawi al-Kabir 9/497-498, asy-Syarh al-Kabir 7/502-503).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mereka berpendapat wanita hamil zina memiliki iddah sehingga haram dinikahi sebelum selesai iddahnya. Dalil mereka adalah QS. Ath-Thalaqayat 4:</p>
<p>وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ</p>
<p>“Dan perempuan-perempuan yang hamil itu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disebutkan juga dalam hadits:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>أَلَا لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ وَلَا غَيْرَ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ</p>
<p>“Ingatlah, tidak disetubuhi wanita hamil hingga ia melahirkan dan tidak juga pada wanita yang tidak hamil sampai satu kali haidh” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Ad-Darimi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>5. Sah dengan syarat menikahnya dilakukan setelah wanita istibra’ plus telah bertaubat. Didukung oleh Abu Ubaidah, Qatadah, Ahmad ibn Hanbal, dan Ishaq (al-Hawi al-Kabir 9/492-493, Tafsir Ibnu Katsir 6/9-10).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibnu Qudamah (Syarhu Kabir 7/504) menjelaskan bahwa sesuai bunyi terakhir ayat 3 surat An-Nur, ‘wa hurrima dzalika ‘alal mukminin’,keharaman menikahi pezina diperuntukkan bagi orang mukmin (yang sempurna). Sehingga ketika telah bertaubat dari zina leburlah dosa, kembali menjadi bagian dari orang-orang mukmin, dan hukum haram baru bisa terhapus. Sebagaimana hadits:</p>
<p>التائب من الذنب كمن لا ذنب له</p>
<p>“Seorang yang telah bertaubat dari dosa itu layaknya tidak ada dosa padanya” (HR. Hakim, Ibnu Majah, Thabrani, dan Baihaqi).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ibnu Umar pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang perempuan, apakah boleh dia menikahinya ? Jawab Ibnu Umar, “Jika keduanya telah bertaubat dan keduanya berbuat kebaikan (yakni beramal shalih)” (Al-Muhalla 9/ 475).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam hal ini tidak ada perbedaan apakah wanita tersebut dinikahi oleh laki-laki yang menzinai ataupun orang lain. Dari sudut pandang Syafi’iyahkarena hamil hasil zina tidak ada kehormatan apapun yang perlu dijaga seperti percampuran nasab. Dari perspektif ulama lainnya karena telah disyaratkan tidak adanya hubungan badan.</p>
<p>Tersebut dalam Bughyah:</p>
<p>(مسألة : ي ش) : يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزاني وغيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة.</p>
<p>الكتاب : بغية المسترشدين ص419</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Juga dalam Mughni Ibnu Qudamah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>فصل : وإذا وجد الشرطان حل نكاحها للزاني وغيره</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[ المغني - ابن قدامة ] ج7 ص518</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi jika melihat kembali pada kasus awal, apakah nikahnya harus diulang? Maka jawabannya jelas tidak. Sebab menurut Syafi’iyah dan satu riwayat Abu Hanifah nikahnya telah sah sejak awal. Wallahu a’lam</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pustaka Ilmu Sunni<br />
Brabo,  Sirojuth Tholibin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/fikih-status-anak-zina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMBACA AL-QUR&#8217;AN DI KUBURAN</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/membaca-al-quran-di-kuburan/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/membaca-al-quran-di-kuburan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2013 16:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahtsul Masa'il]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[membaca al qur'an di kuburan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2240</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan ini akan mengupas dasar penetapan membaca al-Qur&#8217;an atau khusunya surat Yasin dan tahlil di kuburan sebagaimana yang kerap dilakukan oleh warga Nahdhiyyin saat berziarah atau nyekar di makam orang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/quran_kubur.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2241" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/quran_kubur.jpg" alt="" width="320" height="213" /></a>Pembahasan ini akan mengupas dasar penetapan membaca al-Qur&#8217;an atau khusunya surat Yasin dan tahlil di kuburan sebagaimana yang kerap dilakukan oleh warga Nahdhiyyin saat berziarah atau nyekar di makam orang tua atau saudara.<br />
Dalam satu haditsnya, Rasulallah bersabda:</p>
<p>مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمْعَةٍ فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ عِنْدَهُ يَس غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ آيَةٍ أَوْ حَرْفٍ<br />
“Barangsiapa berziarah ke kuburan kedua orang tuanya setiap Jum’at lalu membacakan di sisinya Surat Yasin, niscaya akan diampuni sebanyak jumlah ayat dan huruf yang dibaca.”</p>
<p>Hadits riwayat Ibnu ‘Adi dari Abu Bakar ini masih diperselisihkan para pakar ahli hadits. Al-Hafizh Ibnul Jauzi menilainya maudhu’, sementara ulama lain mengatakan hanya dha‘if[1] seperti al-Hafizh as-Suyuthi dan lain-lain.</p>
<p>Berangkat dari pendapat yang terakhir ini sebagian ulama fiqh mengamalkannya sebagai fadha’ilul ‘amal. Andai hadits tersebut berstatus sangat dha‘if pun, juga masih bisa diamalkan dalam fadha’il karena banyaknya riwayat-riwayat hadits tentang ziarah makam kedua orang tua setiap Jum’at, seperti riwayat at-Tirmidzi dan ath-Thabarani (lihat al-Jami’ ash-Shaghir dan Faidhul Qadir hadits no. 8718 dan Bujairami ‘ala al-Khathib bab ‘Jenazah’).</p>
<p>Imam ath-Thabari, sebagaimana keterangan di atas mengatakan bahwa membaca surat Yasin di samping orang yang telah meninggal adalah legal. Dan membaca surat Yasin saat berziarah adalah termasuk dari membaca di samping orang yang telah meninggal.</p>
<p>Dalil disunahkan membaca Al-Qur’an di kuburan memang tidak ada yang shahih dari Rasulallah, semuanya berkisar dha‘if seperti yang dijelaskan al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi [pembahasan shadaqah pada mayit]. Namun, bukan berarti hadits dha‘if tersebut tidak boleh diamalkan dalam fadha’il, apalagi hadits-hadits di atas dikuatkan pendapat para ulama, seperti riwayat al-Marwazi dari Ahmad bin Hanbal, beliau mengatakan: “Bila kalian masuk ke dalam taman makam (kuburan), maka bacalah al-Fatihah, Surat Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain! Jadikanlah pahalanya untuk mayit-mayit kuburan tersebut, karena sungguh pahalanya sampai kepada mereka.”[2]</p>
<p>Seperti juga riwayat Abu Hurairah, bahwa Rasulallah mengatakan: “Siapa saja yang masuk kuburan kemudian membaca al-Fatihah, al-Ikhlash dan at-Takatsur dan lalu berdoa: ’Aku jadikan pahala kalam-Mu yang telah aku baca untuk penduduk kuburan muslimin dan muslimat.’ Maka mereka (ahli kubur) akan memintakan syafa’at kepada Allah untuk orang tersebut.’”[3]</p>
<p>Syaikh Abdul Wahhab As-Sya’rani dalam Mukhtasar Tadzkirah al-Qurthubi (hal-25) bercerita tentang Imam Ahmad bin Hanbal yang berkata “Jika kalian masuk ke kuburan, maka bacalah surat al-Fatihah, al-Mu’awwidzatain dan Qulhuwallahu Ahad (surat al-Ikhlash) dan jadikankanlah pahalanya untuk penghuni kuburan tersebut, karena sesungguhnya pahala (bacaan al-Qur’an) bisa sampai kepada mereka”. Memang, sebelumnya Imam Ahmad pernah mengingkari ketetapan hukum yang menyatakan bahwa pahala bisa sampai kepada mayit, namun setelah beliau menerima cerita dari orang-orang yang tsiqah (kredibel dalam riwayat hadits) tentang Sayyidina Abdullah bin Umar bin Khaththab[4] yang pernah berwasiyat supaya nanti setelah wafat untuk di bacakan surat al-Fatihah dan akhir surat al-Baqarah dibagian arah kepalanya, maka kemudian Imam Ahmad menarik pendapatnya tersebut.</p>
<p>Begitu juga dengan Syaikh Izzuddin bin Abdissalam yang pernah ingkar terhadap ketetapan hukum tersebut. Ketika beliau wafat, sebagian dari muridnya ada yang bermimpi bertemu beliau dan bertanya mengenai masalah kirim pahala kepada mayit dan di jawab bahwa beliau kini telah menarik pendapatnya setelah mengetahui sendiri ternyata pahala bisa sampai (kepada mayit) saat beliau dalam alam kubur.<br />
Dalam kitab at-Tahdzir &#8216;an al-Ightirar bima ja&#8217;a fi kitab al-Hiwar hal. 82 di jelaskan bahwa Ibnu Taimiyyah juga mendukung Imam Ahmad dalam mencetuskan legalnya membaca al-Qur&#8217;an di samping makam. Bahkan Ibnu Qayyim juga mendukung dan dalam kitabnya ar-Ruh hal. 10, menuturkan tentang segolongan ulama salaf yang berwasiyat supaya di bacakan al-Qur&#8217;an setelah mereka di makamkan.</p>
<p>Ibnu Muflih dalam al-Furu&#8217; (II/304) mengatakan, &#8220;Tidak makruh membaca (al-Qur&#8217;an) di samping makam atau di dalam kuburan. Ketetapan ini di pilih oleh Abu Bakar, al-Qadli dan segolongan ulama dan ini adalah ketetapan madzhab serta di amalkan oleh masyayikh madzhab Hanafiyyah. Sebagian mengatakan mubah dan sebagian mengatakan sunat&#8221;. Ibnu Tamim juga berkata, &#8220;Ketetapan ini seperti salam (kepada ahli kubur), dzikir, berdo&#8217;a dan istighfar&#8221;. Dan pernyataan Ibnu Tamim tersebut sangat mendukung pembacaan ratib tahlil di samping makam yang memang isi dari ratib tersebut adalah bacaan al-Qur&#8217;an, dzikir, istighfar dan shalawat.</p>
<p>Ar-Rafi’i menuturkan bahwa Abu Thayyib ditanya tentang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam kuburan. Beliau menjawab: “Pahalanya untuk pembacanya, sedangkan si mayit seperti orang yang hadir (dalam majelis pembacaan Al-Qur’an) yang diharapkan juga mendapat rahmat dan barakah. Oleh karena itu, disunahkan membaca Al-Qur’an di dalam kuburan.”[5] Apalagi berdoa (dalil berdoa dalam kuburan shahih) lebih mustajabah ketika dilakukan setelah membaca Al-Qur’an.[6]</p>
<p>[1] Faidh al-Qadir juz 6 hlm. 172.</p>
<p>[2] Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah hlm.15, I’anah al-Thalibin juz 2 hlm.162</p>
<p>[3] Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah hlm.16</p>
<p>[4] Riwayat wasiyat Abdullah bin Umar tersebut adalah shahih. Lihat kitab Manhaj as-Salaf hlm. 385</p>
<p>[5] Syarh al-Wajiz juz 5 hlm. 249.</p>
<p>[6] Hujjah Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah hlm. 14.</p>
<p>PERTANYAAN :<br />
Essa Akbar Al Babakani<br />
boleh tdk membaca al-qur&#8217;an di kuburan.. syukron <img src='http://sirojuth-tholibin.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>JAWABAN :</p>
<p>Yupiter Jet</p>
<p>عن ابن عباس رضي الله عنه قال:ضرب بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم خباءه على قبر وهو لا يحسب أنه قبر,فإذا فيه إنسان يقرأ سورة الملك حتى ختمها.فأتى النبي صلي الله عليه وسلم فأخبره,فقال رسول الله صلي الله عليه وسلم:&#8221;هي المانعة,هي المنجية,تنجيه من عذاب القبر&#8221;.(رواه الترميذى وحسنه).</p>
<p>Dari Ibnu Abbas RA berkata:”Ada sebagian sahabat Rosulullah SAW yang membuat tenda (kemah) di atas kuburan,ia tidak tahu kalau tempat itu adalah kuburan.Ternyata disitu ada seseorang yang sedang membaca Alqur’an Surat Al Mulk sampai selesai.Lalu ia mendatangi Rosulullah SAW dan menghabarkan kejadian tersebut kepada beliau.lalu Rosulullah SAW bersabda:”Itu adalah surat yang bisa mencegah dan menyelamatkan pembacanya dari siksa kubur”.</p>
<p>(HR. Attirmidzi, beliau mengatakan hadits ini Hasan</p>
<p>وروينا فى سنن البيهقى بإسناد حسن أن ابن عمر رضي الله عنه استحب أن يقرأ على القبر بعد الدفن أول سورة البقرة وخا تمتها&#8221;.</p>
<p>Al Adzkaar Annawawiyyah 135</p>
<p>Tentunya Ibnu Umar RA lebih faham daripada kita dalam sola ini.makanya tidaklah heran kalau kemudian beliau memerintahkan untuk membacakan Alqur’an setelah mayyit di kubur</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/membaca-al-quran-di-kuburan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Menambahkan kata “Sayyidina” dalam Shalat?</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/bolehkah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/bolehkah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2013 16:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum membaca sayyidina pada sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[kata sayyidina untuk sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[membaca sayyidina dalam sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth Tholibin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2235</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebagian anggapan bahwa menambahkan kata “Sayyidina” dalam shalat tidak diperbolehkan karena hanya boleh diucapkan diluar shalat. Benarkah mengucapkan kata Sayidina dalam shalat (tasyahud awal/akhir) tidak boleh? Yang boleh dan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/sayyid.jpg"><img class="alignleft  wp-image-2236" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/sayyid.jpg" alt="" width="245" height="242" /></a>Ada sebagian anggapan bahwa menambahkan kata “Sayyidina” dalam shalat tidak diperbolehkan karena hanya boleh diucapkan diluar shalat. Benarkah mengucapkan kata Sayidina dalam shalat (tasyahud awal/akhir) tidak boleh? Yang boleh dan benar adalah diucapkan hanya diluar shalat?</p>
<p>Menyertakan kalimat “<strong><em>SAYYIDINA</em></strong>” dalam sighat shalawat atas Nabi ketika shalat tidak membatalkan shalat. Bahkan sebaliknya, mayoritas ulama seperti Ibn Dhahirah, Ibn Hajar, al-Kurdi, az-Zayadi, al-Halibiy dan lainnya menyatakan bahwa menyertakannya dalam sighat shalawat lebih utama daripada meniadakannya. Adapun hadits Rasulullah SAW dalam tatacara bershalawat berikut :</p>
<p>عَنْ أَبِي سَعِيدْ اَلْخُدْرِي قَالَ : قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ هَذَا السَّلاَمُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَليِّ عَلَيْكَ ؟ قَالَ ( قُوْلُوا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَباَرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ )</p>
<p><em>Dari Abi Sa’id alkhudri berkata :” kami berkata kepada Rasulullah :” wahai Rasulullah, ini adalah salam untukmu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu ?”, maka Rasulullah berkata :” ucapkanlah :</em></p>
<p>اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمْ</p>
<p>, jika kita melihat hadits di atas, kita ketahui bahwa Rasulullah memerintahkan bacaan shalawat dengan tanpa menyertakan kalimat “<strong><em>SAYYIDINA</em></strong>”. Hal ini akan memberikan kesan bahwa para ulama’ yang berpendapat lebih utama bershalawat dengan menyertakan kalimat “SAYYIDINA” itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berpendapat demikian mendasarkan pada<strong>“<em>sulukul adab khoirun min imtitsalil amri” </em></strong>(adab kepada Rasulullah (dengan memanggil yang lebih mulia) adalah lebih utama daripada melaksanakan perintah beliau).</p>
<p>Namun sebagian ulama’ lainnya seperti alhabib Abdullah bin Alawi Al-Haddad mendasarkan pada “<strong><em>imtitsalul amri</em></strong> <strong><em>khoirun min sulukil adab” </em></strong>(melaksanakan perintah Rasulullah lebih utama daripada memperhatikan adab), sehingga mereka menyatakan bershalawat dengan tanpa menyertakan kalimat “<strong><em>SAYYIDINA</em></strong>” itu lebih utama daripada dengan menyertakannya. <strong>[1]</strong></p>
<p>Adapun riwayat hadits yang dijadikan hujjah larangan mengucapkan kalimat “<strong><em>SAYYID</em></strong>” kepada Rasulullah oleh sebagian golongan adalah tidak benar dan batil. Hadits yang mereka maksudkan adalah :</p>
<p>{ لاَ تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلاَةِ }</p>
<p><em>“ janganlah kalian mengucapkan kalimat “sayyid” kepadaku”</em></p>
<p>Hadits ini tidak memiliki dasar sama sekali, bahkan dalam segi bahasa termasuk kesalahan fatal yang tidak mungkin diucapkan oleh Nabi sebagai paling fasihnya orang arab dalam bertutur kata. Hal ini dikarenakan kalimat “<strong><em>sayyid</em></strong>“ berasal dari kata “  سَادَ – يَسُوْدُ  “ , yang seharusnya ketika menginginkan makna seperti dalam hadits, maka dengan redaksi “ لاَ تُسَوِّدُوْنِي “ dan bukanlah dengan “ لاَ تُسَيِّدُونِي  “ . Oleh karena itu, pernyataan ini tidak bisa dijadikan hujjah pelarangan memanggil “<strong><em>sayyid</em></strong>” kepada Rasulullah SAW. <strong>[2]</strong></p>
<p><strong>[1] </strong><strong>حواشي الشرواني – (ج 2 / ص 86</strong><strong>)</strong></p>
<p>قوله: (على محمد) والافضل الاتيان بلفظ السيادة كما قاله ابن ظهيرة وصرح به جمع وبه أفتى الشارح لان فيه الاتيان بما أمرنا به وزيادة الاخبار بالواقع الذي هو أدب فهو أفضل من تركه وإن تردد في أفضليته الاسنوي.وأما حديث: لا تسيدوني في الصلاة فباطل لا أصل له كما قاله بعض متأخري الحفاظ وقول الطوسي: إنها مبطلة غلط شرح م ر اه سم عبارة شرح بافضل: ولا بأس بزيادة سيدنا قبل محمد اه. وقال المغني: ظاهر كلامهم اعتماد عدم استحبابها اه. وتقدم عن شيخنا أن المعتمد طلب زيادة السيادة وعبارة الكردي واعتمد النهاية استحباب ذلك وكذلك اعتمده الزيادي والحلبي وغيرهم وفي الايعاب الاولى سلوك الادب أي فيأتي بسيدنا وهو متجه اه. قال ع ش: قوله م ر:لان فيه الاتيان الخ يؤخذ من هذا من سن الاتيان بلفظ السيادة في الاذان وهو ظاهر لان المقصود تعظيمه (ص) بوصف السيادة حيث ذكر اهـ</p>
<p><strong>مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج  – (ج 2 / ص 400</strong><strong>)</strong></p>
<p>قَالَ فِي الْمُهِمَّاتِ : وَاشْتُهِرَ زِيَادَةُ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ ، وَفِي كَوْنِهَا أَفْضَلَ نَظَرٌ وَفِي حِفْظِي أَنَّ الشَّيْخَ عِزَّ الدِّينِ بَنَاهُ عَلَى أَنَّ الْأَفْضَلَ سُلُوكُ الْأَدَبِ أَمْ امْتِثَالُ الْأَمْرِ ؟ فَعَلَى الْأَوَّلِ يُسْتَحَبُّ دُونَ الثَّانِي . ا هـ . وَظَاهِرُ كَلَامِهِمْ اعْتِمَادُ الثَّانِي ،</p>
<p><strong>إعانة الطالبين – (ج 1 / ص 201</strong><strong>)</strong></p>
<p>(قوله: وهو اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إلخ) قال في شرح البهجة الكبير ما نصه: وفي الاذكار وغيره: الافضل أن يقول: اللهم صل على سيدنا محمد عبدك ورسولك النبي الامي وعلى آل محمد وأزواجه وذريته كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم.وبارك على محمد النبي الامي وعلى آل محمد وأزواجه وذريته كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم. في العالمين إنك حميد مجيد. اه ع ش.</p>
<p><strong>فتح المعين – (ج 1 / ص 200</strong><strong>)</strong></p>
<p>(ويسن أكملها في تشهد) أخير، وهو: اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، وبارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد. والسلام تقدم في التشهد فليس هنا إفراد الصلاة عنه، ولا بأس بزيادة سيدنا قبل محمد.</p>
<p><strong>[2] </strong><strong>أسنى المطالب  – (ج 2 / ص 466</strong><strong>)</strong></p>
<p>قَالَ فِي الْمُهِمَّاتِ وَاشْتُهِرَ زِيَادَةُ سَيِّدِنَا قَبْلَ مُحَمَّدٍ وَفِي كَوْنِهِ أَفْضَلَ نَظَرٌ وَفِي حِفْظِي أَنَّ الشَّيْخَ عِزَّ الدِّينِ بَنَاهُ عَلَى أَنَّ الْأَفْضَلَ سُلُوكُ الْأَدَبِ أَمْ امْتِثَالُ الْأَمْرِ فَعَلَى الْأَوَّلِ يُسْتَحَبُّ دُونَ الثَّانِي انْتَهَى . قَوْلُهُ : فَعَلَى الْأَوَّلِ يُسْتَحَبُّ دُونَ الثَّانِي ) قَالَ ابْنُ ظَهِيرَةَ الْأَفْضَلُ الْإِتْيَانُ بِلَفْظِ السِّيَادَةِ كَمَا صَرَّحَ بِهِ جَمْعٌ وَبِهِ أَفْتَى الْجَلَالُ الْمَحَلِّيُّ جَازِمًا بِهِ قَالَ ؛ لِأَنَّ فِيهِ الْإِتْيَانَ بِمَا أُمِرْنَا بِهِ وَزِيَادَةَ الْإِخْبَارِ بِالْوَاقِعِ الَّذِي هُوَ أَدَبٌ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ تَرْكِهِ ، وَإِنْ تَرَدَّدَ فِي أَفْضَلِيَّتِهِ الْإِسْنَوِيُّ .ا هـ .وَحَدِيثُ { لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ } بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ كَمَا قَالَهُ بَعْضُ مُتَأَخِّرِي الْحُفَّاظِ وَقَوْلُهُ الْأَفْضَلُ الْإِتْيَانُ بِلَفْظِ السِّيَادَةِ أَشَارَ إلَى تَصْحِيحِهِ</p>
<p>(SARKUB.COM)</p>
<p style="text-align: right">&#8220;Sirojuth Tholibin&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/bolehkah-menambahkan-kata-sayyidina-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perayaan Valentine&#8217;s Day ? ? ?</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/perayaan-valentines-day/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/perayaan-valentines-day/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Feb 2013 02:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahtsul Masa'il]]></category>
		<category><![CDATA[Brabo]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Valentine's Day]]></category>
		<category><![CDATA[Valentine's Day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2229</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 14 februari merupakan hari dimana Valentine Day dirayakan, menurut satu versi sejarah terjadinya valentine Day adalah berawal pada dihukum matinya seorang martir Kristen yaitu St. Valentine pada tanggal 14 Februari 270...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/1-tidak-ada-valentine-day-dalam-islam1-2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2231" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/02/1-tidak-ada-valentine-day-dalam-islam1-2.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a>Tanggal 14 februari merupakan hari dimana Valentine Day dirayakan, menurut satu versi sejarah terjadinya valentine Day adalah berawal pada dihukum matinya seorang martir Kristen yaitu St. Valentine pada tanggal 14 Februari 270 M pada masa pemerintahan Kaisar Constantin Agung (280 – 337 M) karena ia menolak kebijakan sang kaisar yang melarang terjadinya pertunangan dan pernikahan.</p>
<p>Semua iu terjadi ketika bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan dimana Kaisar merasa kesulitan merekrut para pemuda untuk memperkuat Armada perangnya, hal itu disinyalir karena banyak pria enggan meninggalkan keluarganya atau kekasihnya.</p>
<p>Dalam The Encylopedia Britania vol. 12 sub. Judul Christiany menjelaskan “Agar lebih dapat mendekatkan lagi terhadap ajaran Kristen pada tahun 495 M. Paus Gelasius I merubah upacara Romawi Kuno, menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine Day, untuk menghormati Saint Valentine yang mati”.</p>
<p>Di Indonesia perayaan Valentine banyak dilakukan oleh kalangan muslim, mereka menganggap hari itu merupakan saat tepat untuk mengungkapkan rasa kasih saying.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>PERTANYAAN</em></strong></p>
<p>a. Bagaimana hukum merayakan Valentine Day ?</p>
<p>b. Bolehkah menjual pernak-pernik (souvenir) Valentine Day ?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>JAWABAN</em></strong></p>
<p>a. Dalam hal ini terdapat pemilahan hukum sebagai berikut :</p>
<p>&gt;&gt; Kufur, bila ada tujuan menyerupai non muslim dan sampai kagum pada agama mereka</p>
<p>&gt;&gt; Haram apabila hanya bertujuan menyerupai non muslim tanpa disertai kecondongan pada agama mereka</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b. Haram karena termasuk ikut serta terjadinya kemaksiatan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>REFERENSI</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Fataawa Ibn Hajar al-Haytamy IV/238</p>
<p>2. Bughyah al-Mustarsyidiin I/528</p>
<p>3. Is’aad ar-Rafiiq II/128</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right">باب الردة</p>
<p style="text-align: right">وسئل رحمه الله تعالى ورضي عنه هل يحل اللعب بالقسي الصغار التي لا تنفع ولا تقتل صيد إبل أعدت للعب الكفار وأكل الموز الكثير المطبوخ بالسكر وإلباس الصبيان الثياب الملونة بالصفرة تبعاً لاعتناء الكفرة بهذه في بعض أعيادهم وإعطاء الأثواب والمصروف لهم فيه إذا كان بينه وبينهم تعلق من كون أحدهما أجيراً للآخر من قبيل تعظيم النيروز ونحوه، فإن الكفرة صغيرهم وكبيرهم وضيعهم ورفيعهم حتى ملوكهم يعتنون بهذه القسي الصغار واللعب بها وبأكل الموز الكثير المطبوخ بالسكر اعتناء كثيراً وكذا بإلباس الصبيان الثياب المصفرة وإعطاء الأثواب والمصروف لمن يتعلق بهم وليس لهم في ذلك اليوم عبادة صنم ولا غيره وذلك إذا كان القمر في سعد الذابح في برج الأسد وجماعة من المسلمين إذا رأوا أفعالهم يفعلون مثلهم فهل يكفر أو يأثم المسلم إذا عمل مثل عملهم من غير اعتقاد تعظيم عيدهم ولا اقتداء بهم أو لا؟. فأجاب نفع الله تبارك وتعالى بعلومه المسلمين بقوله: لا كفر بفعل شيء من ذلك، فقد صرح أصحابنا بأنه لو شد الزنار على وسطه أو وضع على رأسه قلنسوة المجوس لم يكفر بمجرد ذلك اهـ، فعدم كفره بما في السؤال أولى وهو ظاهر بل فعل شيء مما ذكر فيه لا يحرم إذا قصد به التشبه بالكفار لا من حيث الكفر وإلا كان كفراً قطعاً، فالحاصل أنه إن فعل ذلك بقصد التشبه بهم في شعار الكفر كفر قطعاً أو في شعار العيد مع قطع النظر عن الكفر لم يكفر، ولكنه يأثم وإن لم يقصد التشبه بهم أصلاً ورأساً فلا شيء عليه، ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكر ما يوافق ما ذكرته فقال: ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون، وقد قال : «من تشبه بقوم فهو منهم» ، بل قال ابن الحاج : لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانياً شيئاً من مصلحة عيده لا لحماً ولا أدماً ولا ثوباً ولا يعارون شيئاً ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك. ومنها اهتمامهم في النيروز بأكل الهريسة واستعمال البخور في خميس العيدين سبع مرات زاعمين أنه يدفع الكسل والمرض وصبغ البيض أصفر وأحمر وبيعه والأدوية في السبت الذي يسمونه سبت النور وهو في الحقيقة سبت الظلام ويشترون فيه الشبث ويقولون أنه للبركة ويجمعون ورق الشجر ويلقونها ليلة السبت بماء يغتسلون به فيه لزوال السحر ويكتحلون فيه لزيادة نور أعينهم ويدهنون فيه بالكبريت والزيت ويجلسون عرايا في الشمس لدفع الجرب والحكة ويطبخون طعام اللبن ويأكلونه في الحمام إلى غير ذلك من البدع التي اخترعوها ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم اهـ.</p>
<p style="text-align: right">فتاوى ابن حجر الهيثمي رقم الجزء: 4 رقم الصفحة: 238</p>
<p style="text-align: right">*********************************</p>
<p style="text-align: right">مسألة : ي) : حاصل ما ذكره العلماء في التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلاً إلى دينهم وقاصداً التشبه بهم في شعائر الكفر ، أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما ، وإما أن لا يقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم في شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم ، وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء في الصلاة</p>
<p>Bughyah al-Mustarsyidiin I/528</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right">فصل ومن معاصي )كل (البدن) ألى أن قال ومنها (الإعانة على المعاصي)اي على معصية من معلصي الله بقول اوفعل او غيره ثم ان كان المعصية كبيرة كانت الإعانة عليها كذلك كما فى الزواجر</p>
<p style="text-align: right">إسعاد الرفيق الجزء الثاني ص 128</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/02/perayaan-valentines-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Sayyid &#8216;Alawi bin Abbas Al-Maliki dengan &#8220;Orang-orang Badui&#8221; (baca: Wahabi)</title>
		<link>http://sirojuth-tholibin.net/2013/01/kisah-sayyid-alawi-bin-abbas-al-maliki-dengan-orang-orang-badui-baca-wahabi/</link>
		<comments>http://sirojuth-tholibin.net/2013/01/kisah-sayyid-alawi-bin-abbas-al-maliki-dengan-orang-orang-badui-baca-wahabi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2013 08:18:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminbrabo</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Orang-orang badui]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyid Alawi]]></category>
		<category><![CDATA[Sirojuth Tholibin Brabo]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sirojuth-tholibin.net/?p=2219</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika Sayyid ‘Alawi bin Abbas al-Maliki duduk dalam halaqahnya di Masjidil Haram. Dan di lain sudut, duduk pula Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di, pengarang sebuah kitab tafsir. Banyak pula orang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/01/Makkah-Hujan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2220" src="http://sirojuth-tholibin.net/wp-content/uploads/2013/01/Makkah-Hujan.jpg" alt="" width="605" height="605" /></a>Suatu ketika Sayyid ‘Alawi bin Abbas al-Maliki duduk dalam halaqahnya di Masjidil Haram. Dan di lain sudut, duduk pula Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di, pengarang sebuah kitab tafsir. Banyak pula orang yang sedang</p>
<p>sholat dan bertawaf. Cuaca saat itu langit awan mendung sedang berarak. Kemudian hujan pun turun. Air hujan yang turun di atas Ka’bah mengalir keluar melalui saluran mizab [pancuran emas]. Kemudian jamaah</p>
<p>yang duduk di halaqahnya Sayyid ‘Alawi al-Maliki banyak yang bergegas ke bawah mizab tersebut untuk mendapatkan air daripadanya. Lalu mereka membasahkan baju dan badan mereka dengannya sebagai</p>
<p>mengambil berkah daripadanya.</p>
<p>Melihat hal itu, sekumpulan “Orang Badui” (saya sebut saja Badui pada orang2 wahabi tsb ) mencegah mereka karena menyangka melakukan perbuatan itu adalah syirik. Kata mereka: “Jangan, wahai orang-orang</p>
<p>musyrik. Itu Syirik! Itu Syirik!”.</p>
<p>Lalu semua orang pun beredar dan menuju ke halaqah Sayyid ‘Alawi Al-Maliki. Mereka menanyakan tentang perkara tersebut pada beliau, dan jawaban dari Sayyid ‘Alawi Al-Maliki malah menganjurkannya sebab disitu</p>
<p>ada keberkahan. Kemudian jamaah tadi pun pergi kembali ke mizab tersebut.</p>
<p>“Orang-orang badui” tadi pergi kepada halaqah Syaikh ‘Abdur Rahman dan mengadu kepadanya. Lantas beliau pun bangun dan pergi bertemu dengan Sayyid ‘Alawi. Maka berkumpul lah jamaah dari kedua kubu</p>
<p>kepada dua orang ulama tersebut.</p>
<p>Kata Syaikh ‘Abdur Rahman: “Benarkah Anda mengatakan kepada orang-orang bahwa dalam air hujan tersebut ada berkah?”</p>
<p>Jawab Sayyid ‘Alawi Al-Maliki: “Benar sekali. Bahkan, ada dua barokah..</p>
<p>Balas Syaikh ‘Abdur Rahman: “Bagaimana bisa demikian?”</p>
<p>Jawab Sayyid ‘Alawi Al-Maliki lagi:</p>
<p>“Sebab Allah SWT telah berfirman dalam kitab-Nya mengenai hujan : ( ونزلنا من السماء ما ء مباركا ) &#8211; Dan Kami turunkan daripada langit air yang diberkati, [Surat Qaaf: 9] – dan mengenai Ka’bah pula</p>
<p>sebagaimana Allah SWT berfirman : ( إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركا ) Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di (Makkah) yang diberkahi</p>
<p>dan menjadi petunjuk bagi semua manusia [Surat Ali ‘Imran: 96] -. Maka sekarang terkumpul dua barokah; yaitu barakah dari air hujan dan barakah baitullah ini.”</p>
<p>Mendengar itu, Syaikh ‘Abdur Rahman merasa takjub: “Subhanallah! Bagaimana kami lupa akan hal ini? Lalu beliau pun berterima kasih kepada Sayyid ‘Alawi Al-Maliki dan meminta izin untuk keluar.”</p>
<p>Kemudian kata Sayyid ‘Alawi Al-Maliki:</p>
<p>“Nanti dulu, wahai Syaikh, tidakkah kamu lihat ‘orang-orang badui’ itu menyangka bahwa apa yang dibuat oleh banyak orang itu sebagai syirik? Mereka tidak berhenti mengkafirkan orang dan melontar mereka dengan</p>
<p>tuduhan syirik, sehingga melihat orang yang seumpama Anda yang dapat mecnegah mereka. Pergilah ke mizab dan ambil air hujan tersebut di hadapan mereka agar mereka membiarkan orang-orang mengambilnya.&#8221;</p>
<p>Kemudian Syaikh ‘Abdur Rahman pun pergi ke mizab dan mengambil sendiri air hujan itu sebagai mengambil berkah.</p>
<p>Lihatlah Syeikhnya Orang-orang Badui Wahabi juga melakukan tabarruk, mengambil keberkahan dari air hujan dan baitullah kab’bah. Lalu bagaimana pula dengan sikap Orang-orang Badui Salafy Wahabi masa kini yang mengharamkan tabarruk? Menganggap musyrik orang yang bertabarruk. Kalaupun ada yang membolehkan tabarruk, membolehkannya hanya pada orang hidup saja. Lalu air hujan dan kakbah, hidup aap gak YA???&#8230;&#8230;.</p>
<p>*) catatan:</p>
<p>- Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki adalah ayah dari Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.</p>
<p>- Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir bin Abdillah Alu Sa’di Tamimi Al Hambali diilahirkan di kota ‘Unaizah, Qashim sebuah daerah di Najd, Arab Saudi, pada tahun 1307H. Beliau wafat pada waktu fajar, hari Khamis, 23</p>
<p>Jumadil Akhirah 1376H. Diantara murid-murid beliau adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ; Syaikh Sulaiman bin Ibrahim al-Bassam; Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Mathu’; Syaikh Abdullah bin</p>
<p>Abdur-Rahman al-Bassam; Syaikh Muhammad al-Manshur az-Zamil; Syaikh Ali bin Muhammad az-Zamil;; Syaikh Abdullah bin Abdul-Aziz bin ‘Aqil; Syaikh Abdullah al-Muhammad al-‘Auhali dan Syaikh Abdullah bin Hasan Alu Buraikan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right"><strong>Sirojuth Tholibin, Brabo</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sirojuth-tholibin.net/2013/01/kisah-sayyid-alawi-bin-abbas-al-maliki-dengan-orang-orang-badui-baca-wahabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
