BERBUAT KEBAJIKAN (1)

        Berbuat kebajikan adalah seperti menanam buah. Yang paling berhak menikmati hasil panennya adalah mereka yang menanam. Dan perlu dicamkan, bahwa kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbuat baik, meskipun yang kita hadapi adalah orang jahat, orang yang suka menghina, orang yang tidak pandai membalas budi, atau orang yang sering mengecewakan kita. Karena balasan yang kita harapkan bukan dari mereka, kalaupun dari mereka, maka mereka hanyalah perantara saja. Balasan yang kita harapkan adalah yang datang dari Allâh, karena balasan dari-Nya jauh lebih besar dan bermanfaat.

        Sungguh mengherankan bahwa masih banyak orang yang tega berbuat jahat kepada orang lain, padahal di dunia ini tidak ada seorang pun yang ingin diperlakukan buruk oleh orang lain, padahal setiap kejahatan yang kita lakukan akan dibalas.

Allâh mewahyukan:
“Jika kalian berbuat baik (berarti) kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri dan jika kalian berbuat jahat, maka (kejahatan) itu akan kembali kepada kalian sendiri.” (QS 17:7)

“Barang siapa berbuat kebajikan, maka perbuatan itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang berbuat jahat maka kejahatan itu menimpa dirinya sendiri, dan sekali-sekali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya.)”(QS. 41:46)

Dan pada ayat lain Allâh menjanjikan kehidupan bahagia bagi mereka yang beriman dan berbuat kebajikan.

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan membalasnya dengan kehidupan yang baik (menyenangkan) dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS16:97)

Perhatikan dalam kata wa lanajziannahum ada nun dan lam taukid, yakni ada dua penegasan. Jadi dalam bahasa Indonesia harusnya diterjemahkan: maka “sesungguhnya” kami “pasti” akan membalas dengan kehidupan yang menyenangkan…

Itulah mungkin sebabnya sebagian dari orang-orang saleh berkata, “Kalau saja penghuni Surga hidup sebagaimana kami, tentu kehidupan mereka menyenangkan.”

Meski belum masuk Surga, mereka yang selalu berbuat baik telah merasakan kenikmatan yang luar biasa.

K I S A H:

Suatu ketika beredar berita bohong bahwa istri Nabi, ‘Aisyah, melakukan perselingkuhan dengan seorang sahabat bernama Sufyan bin Mua’thal. Di antara yang menyebarkan fitnah ini adalah Misthah, misan Abû Bakar. Berita ini sempat mengganggu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sampai akhirnya turun wahyu untuk memulihkan nama baik ‘Aisyah, istrinya. Abû Bakar yang selama ini sering memberikan bantuan keuangan kepada Misthah menjadi marah dan bersumpah akan menghentikan bantuannya. Kemudian turun ayat yang berbunyi:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan diantara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allâh. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allâh mengampunimu? Dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 24:22)

Mendengar ayat ini Abû Bakar segera berkata, “Aku ingin Allâh mengampuniku.” Lalu ia mencabut sumpahnya. Demikianlah Islam mengajarkan kasih sayang dan tidak menganjurkan dendam dan permusuhan.

Kata-Kata Bijak:

Semua manusia itu baik kalau kita mau melihat kebaikannya.

Pada akhirnya manusia akan dinilai dari apa yang ia berikan, bukan apa yang ia terima.

Buah adalah “kata pertama”
yang terlintas di pikiran kita.
Tapi baru pada saat terakhir
Ia bisa benar-benar dilihat.
Bila kau telah menyelesaikan pekerjaan,
Bila kau telah selesai menanamnya.
(Camille and Kabir Helminski, Rumi: Daylight)

Berbagi ilmu:

Be the first to comment on "BERBUAT KEBAJIKAN (1)"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*