Allahu yarham KH. Arwani Amin bersama Al Maghfurlah H. A. Baidlowie Syamsuri

Berbagi ilmu:

13 Responses to Allahu yarham KH. Arwani Amin bersama Al Maghfurlah H. A. Baidlowie Syamsuri

  1. abudzarah says:

    anda enteng sekali menilai orang siapapun itu!!!
    nanti setelah jazad anda ditanam ke liang lahat anda baru akan tau kebenaran nya,..
    kalau memang anda lebih benar ,..mintalah mati, agar dapat membuktikan siapa yang benar!!!
    orang islam / apalagi lembaga pendidikan islam kok ghibah, yang dia gibahi ulama yang nota bene ilmunya lebih tinggi,…apa anda merasa lebih baik dari syeikh..?!!!
    bagaikan anak TK menilai MAHASISWA,… hanya sebatas katanya…katanya… Istigfar !!! yang ada hanya EMOSI EMOSI belaka,…dikemanakan nilai nilai islam yang tinggi itu,…

    anda itu siapa,…dinasihati melakukan Bid,ah bukannya belajar instrospeksi diri malah menyalahi orang yang menasihati,…baca AlKahfi 57 atau AsSajdah 22, ..bagaimana peringatan ALLAH TA’ALA terhadap orang 2 yang ngeyel keras hati seperti anda,… bukannya tobat malah menjelek jelekan orang,…kenal aja tidak sama syeikh, …. bagaimana anda meminta maaf kepada orang yang telah meninggal?! yang anda jelek2kan,…untuk apa? apa dengan begitu anda jadi lebih mulia dari orang yang anda jelek2kan, anda benar2 nulis tanpa ilmu,..bahkan yang paling mendasar….

    kelak anda akan mempertanggung jawabkan dihadapan ALLAH TA’ALA,…Fitnah yang telah anda sebarkan,…apakah anda beriman ?? kalau ya, anda Pasti tau bahwa semua yang anda tulis akan ditanya ALLA TA’ALA … kok nekat ya..? apa anda ingin disebut pemberani?
    didunia anda boleh bangga dengan tindakan anda,..tapi nanti disaat anda sendirian menghadapi SAKROTUL MAUT anda,…..silahkan anda tersenyum dengan Prestasi anda……. selamat…!!!

    • admin says:

      heheh…untuk mas abu…astaghfirullahal’adzhim..(sesuai yang anda perintahkan untuk beristighfar..:), sebenarnya yang enteng menilai orang itu anda apa saya?lha wong jelas sekali dari kata2 anda..hanya NGAWUR menuduh kami ghibah….malah menyuruh2 orang untuk mati dulu…lha apa smpean juga sudah pernah mati dan membuktikan kebenaran dari pernyataan anda yang mengatakan kami salah?hayoo….;), saya kutip perkataan anda ini :“kelak anda akan mempertanggung jawabkan dihadapan ALLAH TA’ALA,…Fitnah yang telah anda sebarkan,…apakah anda beriman ?? kalau ya, anda Pasti tau bahwa semua yang anda tulis akan ditanya ALLA TA’ALA … kok nekat ya..? apa anda ingin disebut pemberani?”….
      nah…sekarang kalo saya balik….”kelak anda akan mempertanggung jawabkan dihadapan ALLAH TA’ALA,…PERNYATAAN yang telah anda tulis itu….heheh..apakah anda ingin disebut ahli surga???wong sama2 gak pasti masuk surga dulu apa mampir di neraka dulu kok….”
      mas abu…sekarang saya tanya batasan Bid’ah itu apa???
      kalo memang semua (tanpa kecuali) Bid’ah itu sesat, maka saya rasa seluruh umat islam sekarang sesat semua…Kok bisa???ya i ya dong…lha wong rosul gak pernah membaca Quran (dengan tulisan) kok…smpean baca Quran/mushaf….Rosul kan hafal semua…hehe…trus lagi, tulisan quran yang ada di mushaf sekarang ini, apakah itu juga bukan bid’ah…wong rosul gak pernah nyetak/nulis Quran kok…yang menulis dan membukukan Quran itu kan sahabat setelah Rosul…hayo???TAJWID juga termasuk bid’ah…karena Rosul juga gak pernah mengajarkannya….termasuk hukum ikhfa, idhghom dll….jadi, jika tidak ingin melakukan bid’ah, trus kita gak baca quran dengan tajwid gitu????ckckckck…..trus juga, masalah sholat tarawih juga…jika anda tidak melakukan shalat tarawih 20 rokaat, karena menganggap itu bid’ah, maka kelak jika anda haji di makkah…jangan sampai anda sholat dan makmum dengan para imam masjidil haram…karena mereka bisa jadi sesat semua…soalnya mereka sudah melakukan tarawih 20 rokaat tiap malam ramadhan, dan membaca satu juz tiap malamnya…itu belum termasuk qiyamul lail nya…dan itu semua “BELUM ADA DASAR HADITS YANG MENGATAKAN BAHWA ROSUL MELAKUKAN ITU SEMUA SEMASA HIDUPNYA….” bukankah itu juga “baru”….silakan dipikir dulu sebelum komentar…Wallohu a’lam

  2. Si Ahmad says:

    Hehehe
    Pak Abu…
    Mohon Anda yang sopan sedikit donk ah..
    Apa Anda ini yang justru tidak bidngah ..
    Jangan menyeret nama Allah segala….
    Apa Anda ini mengikuti sunnah …
    Apa ada Rosul mengajari dakwah seperti Anda ini ?
    Rosul tidak pernah melakukan itu…

    Silahkan jawab artikel di atas dengan jawaban ilmiyah saja..
    Biarkan kawan yang lain bisa baca mana yang benar mana yang salah
    Supaya sama-sama tidak kata-katnaya saja
    Mana bukti Anda ?
    Biarkan admin menulis ini..
    Jika Anda tidak terima, silahkan jawab dengan jawaban ilmiyah atau ketemu langsung aja dengan penulis, its ok kan ?

  3. Abu Azha says:

    Assalamu’alaikum…

    Setelah kami mengamati tulisan diatas, kami kurang sepakat tulisan ini di posting. Ada beberapa catatan yang dapat kami gali.
    Pertama, kami kurang sepakat dengan judul tulisan diatas. Mengapa? Karena judul diatas itu kurang santun alias provokatif yang mengundang pertikaian antar sesama muslim. Kalau kita sengaja membuat ruang untuk bertikai yang berakibat perang syarat sesama muslim sama halnya kita mencoba untuk membuat pintu neraka kita sendiri.
    Kedua, kalau menginginkan untuk mengetahui keilmuan beliau, menurut hemat kami, sebaiknya menulis biografi kedua ulama tersebut secara detail, biar orang lain yang menyimpulkannya sendiri dari tulisan tersebut.
    Ketiga, saya setuju dengan pendapat Si Ahmad. Bukankah kita dijari panutan kita Nabi Muhammad ,”Ikhtilafu ummati rahmatun”. Kalau kita tidak setuju dengan isi sebuah sebuah karya ilmiah sebaiknya di konter dengan karya ilmiah juga, biar sebanding sisi derajat keilmiahannya. Selain itu, etika sopan santun tetap di junjung tinggi.
    Keempat, “Ma khoba man intasyara”. Tiada rugi orang yang mau bermusyawarah. Kalau kita sebagai orang muslim sudah tidak mau duduk bareng mendiskusikan sesuatu demi untuk kebenaran bukan berdebat untuk berebut benar sendiri, berarti kerugian yang akan kita dapatkan. Bukankah, kita semua sudah diajari isi dari surat al ashr.

    Demikian yang dapat kami sampaikan, kalau ada baiknya itu semata-mata dari Allah. Begitu juga kalau ada salahnya semata-mata dari kami.

    • Vlora says:

      weleh 3xwah jadi wali nichtapi kan kalo mkaiknhean itu harus nikah dulu bukan, kek haji rik (kan kalo mau menghajikan orang tua misalnya kan yg bersangkutan harus naik haji dulu) kalo nikah gitu gak sich ? (hehehehe ..)tapi jangan dech rik nanti loe malah kawin dulu lagi gak pake nikah, buat alesan buat mkaiknhean kakak loe (wkwkkwkwkw)Bisa jadi judul sinetron tuch rik judulnya mkaiknhean ??? (tapi pake triple question mark) soalnya gw baru denger tuch istilah kek gituan

  4. Si Ahmad says:

    Waalaikumussalam Abu Azha

    Begini maksud saya
    1. Kalau berbicara ilmiyah, apakah perlu kita meragukan keilmuan Imam Bukhori, saya kira itu sudah maklum bagi kita semua…
    2. Jika Pak Abu tidak menerima itu sah-sah saja, asal beliau dapat memaparkan fakta dengan tepat
    3. Mohon maaf sebelumnya, saya minta keterangan dari Pak Abu Azha tentang Perbedaan Pendapan Ummatku adalah rahmat ? mohon penjelasan hadis dan riwayatnya
    Syukron

  5. FauzanAlek says:

    HIDUP BID’AH

  6. Dek Naufal says:

    Assalamu’alaikum…

    Jujur saya tidak banyak tahu tentang Syeikh Albani, tapi saya setuju dengan pendapat Abu Azha diatas, kalau memang mau melihat tingkat keilmuan seseorang, alangkah bijaknya jika admin menulis biografi dari orang yang dimaksud secara lengkap dan biarkan pembaca yang menilainya, tanpa harus mencerca antara satu sama lain. Dalam konteks ilmiyah tidak sepantasnya membuat satu tinjauan tentang dua tokoh sehingga mengunggulkan yang satu dan merendahkan yang lainnya kemudian di blow up pada publik.(ini terlihat dari judul yang diberikan oleh admin:“Uji Keilmuan: Imam Bukhari RA vs Syeikh Albani”, ini serasa provokatif sekali menurut saya.

    saya harap kita lebih objektif dalam menilai setiap sesuatu, mari budayakan untuk berpikir ilmiyah. Bukan malah menuduh sana menuduh sini. Atau mengunggulkan sana dan mencerca sini. Menurut saya, admin adalah orang pandai yang tidak hanya bisa copas dari situs tetangga, akan tetapi yang saya sayangkan, kenapa admin memunculkan artikel yang provokatif seperti diatas, bahkan dalam komentarnya ketika menjawab Abudzarah diatas, menurut saya sedikit terkesan mengunggulkan diri, coba admin perhatikan sekali lagi kata2 saudara

    sebenarnya yang enteng menilai orang itu anda apa saya?lha wong jelas sekali dari kata2 anda..hanya NGAWUR menuduh kami ghibah….malah menyuruh2 orang untuk mati dulu…lha apa smpean juga sudah pernah mati dan membuktikan kebenaran dari pernyataan anda yang mengatakan kami salah?hayoo….;),

    Kalau memang tidak suka dengan komentarnya ya tinggal hapus saja, gampang kan???? atau jawab dengan diksi yang baik, sya yakin admin sudah berusaha sehalus mungkin, tapi diksi yang saudara gunakan itu terlalu sentimentil. Kalau masih demikian, apa bedanya anda dengan Abudzarah.

    Melihat posting yang admin sajikan, saya jadi teringat KH. Abdullah Syamsul Arifin, M.HI, yang berpesan kepada para audiens saat hendak menutup seminar Membongkar Kebohongan Buku ‘Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik’ di UNIBRO, saat itu beliau berpesan, jika ada pohon tumbang karena tertiup angin, jangan semata2 menyalahkan anginnya, karena mungkin bisa saja pohonnya yang rapuh.

    jadi hemat saya, alangkah lebih bijak jika admin membuat posting2 yang membangun dan bermanfaat untuk mengokohkan ‘pohon kelapa’ itu daripada menampilkan artikel yang provokatif semacam ini.
    Terimakasih dan mohon maaf jika kurang berkenan.

    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh..

  7. Admin says:

    Terima kasih atas smua masukanya.. :-),siapapun yg bc komentar dan isi nya..tinggal gunakan akal sehat…:-)

  8. masphi says:

    wah , mulai rame nih website SIRBIN !! hehe .. sepertinya perdebatan disini juga imbas dri perdebatan di website aslinya forsansalaf[dot]com .

    tetap berjaya selalu ! semoga akan banyak tulisan-tulisan orisinil dari para santri maupun ustadz SIRBIN . amin
    tetaplah menulis , tetaplah berkarya ! yang mau komentar silahkan berkomentar ! yang tidak setuju silahkan tidak setuju ! 🙂

  9. Si Ahmad says:

    Hehehe
    Asli atau copas menurutku tidak masalah, lha wong admin paling ya terbatas…
    pun dari pada itu, ini semua diniati dakwah..
    jika menurut admin itu layak untuk dicopas ya biarlah…
    saya yakin plagiarisme ini diperbolehkan..
    heheh
    toh, kalau orisini ya… paling ambil dari buku, keterangan lewat telinga
    justru kalau dia ngarang sendiri tidak bersandar sanad menjadi salah..
    tul nggak?

  10. Abu Azha says:

    Saya setuju dengan masalah sanad. Suatu saat saya melihat kitab karangan orang Indonesia, kalu tidak salah kitab “Manhaj Dzawi An Nadhor”. karya Syeikh Mahfudz At Turmusi (Termas, Jatim). Sangat luar biasa…

    Syeikh Mahfudz At Tarmusi memang pantas untuk dikagumi, apalagi bagi kalangan ahlu al isnad, yang mengatahui dari siapa saja beliau memperoleh ilmu dan dari kitab apa saja. Tidak hanya dalam bidang hadits saja, untuk kitab-kitab tafsir, fikih, qira’at, nahwu-sharaf, akhlak-tashawuf, bahkan sampai amalan dzikir, semuanya berasal dari para ulama yang memilki sanad bersambung hingga penulis kitab-kitab tersebut.

  11. muhammad syafii masykur says:

    Sibuknya perdebatan sering melalaikan amal. Masih banyak tugas yang harus kita selesaikan. Masalah-masalah seperti itu sudah diselesaikan oleh para ulama. Kita tinggal mengamalkannya. Sekarang tugas kita adalah membentengi umat dari pemurtadan. Ada yang murtad karena ekonominya, ada yang karena pendidikannya, ada yang karena faktor lain. Semua itu justru sering terlepas dari benak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *