Kisah Imam Ghozali dan Jamuan Makan Malam

ilustrasi jamuan makan malam para sufi

Suatu ketika, Imam Muhammad Al Ghazali mendapat undangan jamuan makan bersama para ulama di wilayah ia bertempat tinggal. Dalam undangan itu disebut salah satu alama dengan ciri-ciri tertentu, semisal rumah di daerah ini yang di samping rumahnya terdapat pohon delimanya.
Para ulama memenuhi undangan sesuai waktu yang telah dijadwalkan dengan mendatangi rumah sesuai dengan ciri-ciri pengundang. Di rumah itu, aneka macam jamuan sudah tersajikan, namun sayangnya saat para ulama ini datang, tuan rumah sedang tidak berada dalam kediaman.
“Wah, ini kita kan diundang di sini untuk makan-makan to?, ayo kita makan. Ini halal, karena kita diundang untuk makan” kata salah satu tamu.
Semua tamu mengiyakan, hanya Imam Ghazali saja yang tidak ikut bergabung makan. Kakinya tidak bisa diangkat untuk mendekat menuju sumber makanan.
Setelah beberapa saat, pemilik rumah datang. “Hai, anda sekalian ini siapa?”
“Lho, kami ini datang memenuhi undangan”
“Undangan siapa?”
Usai berdialog cukup panjang, diketahui bahwa para ulama ini ternyata salah masuk rumah dengan pengundang aslinya. Ada kemiripan ciri-ciri rumah yang membuat para ulama ini salah masuk. Namun, meski begitu Imam Ghazali selamat dari makan yang seharusnya tidak ia makan.
Imam Ghazali berkata
اَلْوَرِعُ مَنْ رَعَاهُ الله
Orang yang wira’i adalah orang yang dijaga oleh Allah, diselamatkan dari apa saja yang ia larang.
Tidak seperti definisi yang diberikan ulama secara umum, wirai adalah menjauhi hal yang syubhat, kurang jelas terlebih haram. Namun, Al Ghazali memberikan logika terbalik. Orang yang wirai adalah orang baik yang memang dijaga oleh Allah, diselamatkan dari aneka macam larangannya.
Jadi, Al Ghazali lebih memandang bahwa itu merupakan anugrah dari Allah. Siapa yang yang bisa selamat, itu semata bukan atas daya upaya mereka. Tapi pemberian dari Allah Ta’ala. Wallahu a’lam.

Berbagi ilmu:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *