- Haul KH Syarqowi dan KH Siroj, Desa Tanggung, Kec. Tanggungharjo Grobogan
“Manusia itu seharusnya tidak takut terhadap kematian, tetapi lebih penting memikirkan apa bekal menghadapi kematian tersebut”. Inilah seklumit ceramah dari K.H Makhrus Ali yang dihadirkan dari Jepara untuk bertausyiah pada acara Haul K.H Syarqowi dan K.H Siroj Tanggungharjo Grobogan, Rabo (06/06).
Haul yang dilaksanakan tahun ini dihadiri segenap keluarga besar K.H Syarqowi dan K.H Siroj, para masyarakat, dan para siswa-siswi, santri dari berbagai lembaga pendidikan setempat serta para murid Thoriqoh Naqsabandiyyah Kholidiyyah. Tidak ketinggalan pula para perangkat desa Tanggungharjo.
Acara pengajian yang bertempat di halaman masjid Minhajul Muttaqin desa Tanggungharjo ini, begitu semarak karena dihadiri puluhan hadirin dari berbagai desa di wilayah Tanggungharjo.
Disini, K.H Mahrus Ali menjelaskan bahwa sangat penting didalam menjalani kehidupan duniawi untuk tidak melupakan kematian. “Barang siapa yang melupakan kematian, hidupnya tidak akan terarah” ujar beliau.
Tanpa mengabaikan liku-liku kematian dan alam kubur, manusia tidak perlu takut dan malah harus mempersiapkan bekal untuk menyambut datangnya kematian. Karena sesungguhnya hidup itu hanyalah menungggu datangnya kematian. Beramal akhirat sebanyak-banyaknya tanpa melupakan dunia adalah cara ampuh untuk mendapatkan sukses dunia dan akhirat. Alam kubur yang hanya memberi kita dua pilihan taman surga dan jurang neraka, juga menuntut kita untuk memilih yang baik dengan berusaha saat masih hidup. Acara haul seperti ini, juga sebagai sarana silaturrohim dan sarana yang mengingatkan mati ditengah hiruk pikulnya masalah duniawi tegas beliau dalam tausyiyahnya.
Mursyid Thoriqoh,
KH. Sarqowi merupakan seorang âlim ârif billâh dengan segudang ilmu. Di kalangan kyai, ia amat disegani. KH. Syarqowi seangkatan dengan Syaikh Hadi Giri Kusumo Mranggen. Keduanya merupakan murid Syaikh Sulaiman Az Zuhdi, seorang alim Thoriqoh Naqsabandiyyah Kholidiyyah di Jabal Qubais. Karena itu, selain mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan kitab kuning, KH. Syarqowi juga memberikan wejangan ilmu sepuh, ilmu thoriqoh. tepatnya tarekat Naqsabandiyah Kholidiyyah.
Selain itu, Beliau adalah seorang mursyid agung yang tawadhu’ dan sederhana. Beliau yang lahir pada 1874 M, dari pasangan Marhaban dan Kyai Kasipin telah menjadi ulama’ besar yang mnyebarkan agama islam di wilayah Tangungharjo dan sekitarnya. Beliau wafat sekitar tahun 1943 M.
Sementara, K.H Siroj adalah putra ke-3 dari K.H Syarqowi yang meneruskan estafet kepemimpinan Mursyid Thariqoh di wilayah Tanggungharjo, berkat perjuangan kedunya, islam dapat berkembang pesat diwilayah Tanggungharjo dan sekitarnya. Semoga amal beliau diterima sebagai amal sholih jariyah disisi Allah SWT. Amin
Reported .a.Zam/F.Roz/eNKa
Tanggung, 5 Juni 2012











