Kasyaf Simbah Kyai Syamsuri

Pada 1984, Habib Umar Al-Muthohar sedang mengikuti KKN UNDIP. Kebetulan, KKN bertempat di Kedungjati. Saat itu, Brabo masih bergabung dengan Kecamatan Kedungjati. Habib Umar mendapat kabar bahwa di desa Brabo ada ulama sepuh yang alim dan saleh. Karena Habib Umar sangat suka terhadap ulama, ia mengajak temannya, Ir. Budi (kini Staf Wali Kota Semarang) untuk sowan kepada Kyai Syamsuri.

Sesampainya di ndalem, rupanya Kyai Syamsuri sedang duduk santai memakai baju santai. Akhirnya, Habib Umar masuk dan mengucapkan salam. Setelah itu, Kyai Syamsuri berdiri seraya berkata “Monggo, Ndhoro Sayyid. Monggo, Ndhoro Sayyid[1]”. Silahkan masuk, Tuan.

Kyai Syamsuri kemudian masuk ke dalam rumah dan ganti baju yang lebih pantas. Setelah itu, Kyai Syamsuri menemui Habib Umar. Ada perasaan heran dan tanda tanya besar dalam hati Habib Umar. Bagaimana bisa, Kyai Syamsuri mengenali Habib Umar yang merupakan keturunan Nabi saw (sayyid/habib). Sedangkan, Kyai Syamsuri belum pernah sekalipun bertemu Habib Umar.

Setelah berbincang-bincang dengan Kyai Syamsuri, Habib Umar bertanya, “Mbah, njenengan belum pernah bertemu saya dan mengenal saya kok mengetahui kalau termasuk sayyid” Jawab Kyai Syamsuri, “Gondone ketoro”. Aromanya jelas terlihat. Jawaban ini membuat hati Habib Umar merinding.

Habib Umar mengibaratkan dengan cerita Nabi Ya’qub saat berpisah dengan Nabi Yusuf, di mana Nabi Ya’qub mengenali bahwa baju yang diberikan kepadanya adalah milik Nabi Yusuf hanya lewat mencium aroma bajunya.



[1] Sayyid, syarif, habib adalah sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad saw.

About a- Em